Artikel Terjemahan

Sumatera Barat 1819-1825 (Bagian IV)

Artikel ini ditulis oleh E. B. Kielstra. Diterbitkan pertama kali pada 1887 dalam Bijdrage tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch Indie No. 36 tahun 1887, hal. 7-163 dengan judul asli “Sumatra’s Westkust van 1819-1825″. Diterjemahkan oleh Novelia Musda dan diterbitkan Garak.id untuk tujuan pendidikan non-komersil.

(Sambungan dari bagian III)

***

BAGIAN KEEMPAT

 

Penangkapan Tuanku Saruaso-Kegagalan Usaha negosiasi dengan Tuanku Pasaman-Ditinggalkannya pos di Simawang-Persiapan menyerang VI Kota-Rao-Rao, Kumango dan Sumanik meminta bantuan Belanda-Negosiasi dengan Tuanku Tanjung Alam-Serangan Paderi dipatahkan-Pos di Rao-Rao dibangun-Kaum Paderi dari Agam dan Limapuluh Kota pos Rao-Rao-Raaff mengusir Paderi setelah pertempuran hebat-Pos di Rao-Rao dipindahkan ke Tanjung Alam-Paderi menyerbu pos Tanjung Alam, tapi dapat dipatahkan-Pertempuran di Koto Besar-VI Kota takluk dengan sedikit perlawanan-Pos di Gunung dipindah ke Guguk Sigandang-Operasi menghadapi Kapau-Baso dan Lundang dikuasai-Gagalnya serangan ke Kapau-Raaff meminta tambahan kekuatan-Raja Muning bergabung dengan kita-Kaum Paderi mengancam VI Kota dan Tanjung Alam-Raaff menghadapi Paderi di Sungai Puar, tapi kemudian mundur-Pos Guguk Sigandang ditinggalkan, untuk kembali mengisi pos di Gunung-Situasi genting di Tanjung Alam-Raaff membantu pos Tanjung Alam-Berkat kerjasama Tuanku dari Koto Tuo, kaum Paderi undur diri-Perdamaian untuk sementara bisa dipertahankan

 

Selama bulan April dan Mei 1822 tidak satu pun ada kejadian permusuhan. Raaff fokus mengirim patroli dari Pagaruyung ke segala arah, dengan hasil yang cukup bagus; wilayah yang terbentang luas dari Timur danau Singkarak menyatakan tunduk pada kekuasaan kita dan dua pemuka Paderi, Tuanku di Lako dan Tuanku Imam Haji, dari Sulit Air dan Tanjung Balit, datang untuk menyatakan sumpah setia. Di Padang Ganting (tenggara Pagaruyung) dengan cara damai kepemimpinan penghulu yang lama dipulihkan kembali. 

Kedua Tuanku Saruaso, yang selama ini selalu mengikuti Raaff ke mana pergi dan menunjukkan jasa yang baik, pada bulan April ditahan dan dikirim ke Padang, sebab mereka dianggap bersalah atas pengkhianatan orang-orang pribumi, serta bertanggung jawab atas pembunuhan seorang penghulu di Belimbing. 

Pada tanggal 1 Mei, Raaff menerima berita bahwa Tuanku Pasaman secara rahasia mengungkapkan keinginan untuk melakukan negosiasi. Hal ini menjadi motivasi ditulisnya sebuah “surat yang panjang,” di mana kepada Tuanku Pasaman dibuka kembali jalan untuk melakukan negosiasi yang akan diusahakan semudah mungkin. Untuk menunjukkan keseriusannya, Raaff menulis di antaranya bahwa seluruh permusuhan akan ditangguhkan hingga surat yang dikirim ini dibalas.[1] Tampaknya, balasan dari Tuanku Pasaman tak kunjung diterima.

Sebagai konsekuensi perubahan-perubahan drastis situasi, pos kita di Simawang yang tidak lagi berada di garis operasi tak lagi dibutuhkan. Makanya, pada tanggal 9 Mei 1822 ditinggalkan. 

Hubungan antara Padang Darat dan Padang Pesisir yang melalui Ambacang, meskipun lebih aman daripada yang melalui Simawang, masih perlu banyak perhatian, sehingga sangat diharapkan melakukan perbaikan pada jalur tersebut. Hal ini memotivasi Raaff kembali melanjutkan rencana semula untuk menaklukkan VI Kota; dia membayangkan, dengan menguasai kawasan tersebut, perhubungan akan lebih baik melalui jalur baru dari Pariaman melalui VI Kota. Dengan cara tersebut, tidak hanya akan berguna untuk operasi-operasi militer lebih lanjut, tapi juga dalam jangka panjang bagi perdagangan dan perkembangan umum Padang Darat.

Dalam keadaan menunggu—ketika telah mendapat tambahan pasukan yang diminta Raaff dalam laporannya 31 Maret 1822—sebelum operasi terhadap Lintau kembali dilanjutkan, dilakukan persiapan-persiapan menundukkan VI Kota. Namun, persiapan ini terpaksa mandek pada 6 Juni, karena pemimpin-pemimpin pribumi dari Rao-Rao, Kumango dan Sumanik (tiga kampung di Tanah Datar yang letaknya di Utara Pagaruyung) meminta bantuan kita. Mereka memberitakan, bahwa Padang Tarok– suatu tempat di Utara Bukit Gapoek, yang sekarang terletak di pinggir jalan dari Fort de Kock [Bukittinggi] ke Payakumbuh dan termasuk wilayah Agam—dibumi-hanguskan pemimpin Tanjung Alam, dan pemimpin ini dengan para pribumi Limapuluh Kota, melakukan ancaman terhadap Tanah Datar.[2]

Bantuan yang diharapkan –jika kita tidak ingin mengabaikan keuntungan-keuntungan yang telah diraih di Tanah Datar—tidak bisa ditolak. Karenanya, pada 7 Juni 1 opsir dengan 50 personil Eropa dikirim ke Rao-Rao, dan pada esoknya Raaff dengan sejumlah pasukan Eropa yang sama juga bertolak ke sana.

Tiba di Rao-Rao, Raaff melihat seribuan kaum Paderi[3] mengarah ke Salimpaung dan Supayang; kelihatannya orang-orang dari Tanjung Alam lah yang, setelah membumi hangus Padang Tarok, membinasakan tempat-tempat tersebut, seperti juga kampung-kampung yang letaknya lebih ke Utara: Lawang dan Mandahiling. 

Pada awal-awal Mei, Tuanku di Tanjung Alam mengirim seorang utusan (Datuak Nan Garang dari Salimpauang) ke Letnan Kolonel Raaff untuk memberitahukan bahwa dia dan pasukannya tidak ingin bersekutu dengan Belanda untuk memerangi Tuanku Pasaman. Hal ini mendorong Raaff, meskipun orang-orang Melayu dari Rao-Rao telah banyak berkumpul, untuk tidak segera memulai pertempuran, tapi lebih memilih mengirim surat kepada Tuanku dan para pemimpin lainnya di Tanjung Alam, di mana dia meminta penjelasan lebih lanjut tentang posisi mereka yang tampaknya mengarah ke permusuhan,” sebab dia menyangka, sehubungan dengan kesan-kesan yang berulang kali ditunjukkan padanya, bisa berdamai dengan mereka.”

Mulanya, surat ini mendapat respon yang diharapkan, sebab para Paderi segera memencar. Namun, balasan dari Tuanku Tanjung Alam berbunyi bahwa dia secara mutlak meminta diakui memiliki kekuasaan atas Rao-Rao, Sumanik dan kampung Kumango yang terletak di antara keduanya.

Sikap Tuanku Tanjung Alam ini membuat kans perdamaian menipis, dan Raaff meminta tambahan 50-an personil, selain meriam ukuran 6 thumb dari Pagaruyung. Ketika dukungan yang diminta datang menjelang siang tanggal 9 Juni di Rao-Rao, Raaff masih mencoba menghindari konflik senjata dengan kembali mengirim surat kepada sang Tuanku, membahas betapa tidak berdasar dan begitu sulit dimengertinya tuntutan yang disampaikan olehnya tadi.

Malam 9 Juni tersebut berlalu tanpa jawaban, tetapi di pagi buta esok harinya, beberapa jam sebelum terbit mentari, musuh melakukan serbuan, diiringi deras bunyi tembakan dan lantang pekikan. Raaff semula hanya fokus mempertahankan posisinya; tapi ketika hari mulai terang musuh berhasil dipukul mundur begitu hebat sehingga mereka kabur menyelamatkan diri. Orang-orang Melayu –pasukan bantuan kita—segera mengejar mereka dan membinasakan beberapa kampung di Limapuluh Kota, seperti Salimpaung dan Sipayang, dengan seluruh tempat penempaan besi dan perakitan senjata api serta senjata tajam. Untuk kehati-hatian, Raaff menghentikan pengejaran lepas dari Mandahiling, dekat Tabek Patah. 

Dalam pertempuran ini, dengan 9 korban luka di pihak kita –3 berat dan 6 ringan—tiga meriam pribumi –-satu besi dan dua metal– ukuran 1 thumb jatuh ke tangan kita; banyak juga hasil karya dan peralatan pandai besi, yang dapat digunakan khususnya untuk kepentingan-kepentingan di fort dekat Pagaruyung.

Setelah bermufakat dengan pemimpin-pemimpin Melayu, Raaff memutuskan mendirikan satu benteng di Rao-Rao dengan kekuatan 50 personil dan satu kanon, untuk melindungi tempat itu dari kaum Paderi sekaligus menghalangi mereka melakukan gerakan ofensif di Tanah Datar pada jalur tersebut. Formasi militer lainnya beberapa hari kemudian kembali ke Pagaruyung.

Para pemimpin di Lawang, Mandahiling dan Sipayang menyatakan penyerahan diri; menurut kata-kata mereka, mereka dipaksa oleh orang-orang Tanjung Alam untuk melawan kita. Mereka juga meyakinkan bahwa sebenarnya Tuanku dan para penghulu di Tanjung Alam juga cenderung untuk menyerah, tetapi dihalangi oleh Tuanku Banjar Lawas yang disebut tadi, yang juga tinggal pada atau sekitar kampung tersebut. Atas pertanyaan mengapa mereka bisa sampai bersikap bermusuhan, dijawab bahwa yang ditunggu-tunggu adalah serangan kita terhadap Limapuluh Kota.

Pada 22 Juni Raaff di Pagaruyung menerima surat dari Residen di Padang yang memberitahukan bahwa menurut informasi dari residen Inggris di Natal, di Utara Limapuluh Kota, kaum Paderi berkumpul dalam jumlah besar tanpa diketahui maksud sebenarnya. Tiga hari setelah itu informasi dari Rao-Rao membenarkan kabar tersebut; menurut info ini, tidak hanya jumlah besar kaum Paderi dari Agam dan Limapuluh Kota berkumpul di sekitar Rao-Rao, tapi juga para penduduk pada kawasan-kawasan lebih ke Utara, seperti dari Lembah Bonjol telah bersatu dengan kaum Paderi. Rakyat Salimpaung sangat mengharap sokongan kita. 

Raaff kini terpaksa kembali mengalihkan perhatian ke Limapuluh Kota. Dia langsung mengirim bantuan tambahan ke Rao-Rao pada malam 25 menjelang 26 Juni, di mana komandan militer tersebut juga memanggil orang-orang Melayu di kampung–kampung sekitar untuk serta; esoknya Raaff sudah bergerak melakukan mars dengan 3 perwira, 163 personil Eropa, satu houwitser, meriam 6 thumb, satu kanon 1 ½ thumb, diiringi sekira 15-16.000 orang Melayu.

Kekuatan musuh diperkirakan tak kurang dari 30.000 orang dan menempati posisi ketinggian di Tanjung Alam, Barulak dan Tungkar. Di sini pada 27 Juni, pagi pukul tujuh, dilakukan penyerbuan; barulah sebelum jam 2 siang, ketika sebagian besar amunisi telah digunakan, kita menguasai secara kilat salah satu benteng musuh sehingga mereka dipukul mundur pada seluruh titik.

Dalam pertempuran ini korban di pihak kita: 1 opsir terluka, yakni Letnan Dua HC van der Veen dan 27 personil lainnya (5 tewas, 7 berat dan 14 luka ringan).

Tindakan-tindakan musuh dalam hari-hari terakhir tersebut tampaknya tak punya koneksi langsung dengan pertempuran-pertempuran dan insiden-insiden lain yang melibatkan Tuanku Pasaman. Namun, Raaff meyakini kemenangan yang diraih mungkin akan memiliki dampak bagus bagi daerah-daerah yang sebelumnya cenderung melakukan perlawanan. Dalam menutup laporan bertanggal 30 Juni, Raaff bahkan mengungkapkan kepercayaan dirinya, bahwa pengiriman kembali surat-surat bagi sejumlah pemimpin pribumi berpengaruh di Agam dan Limapuluh Kota barangkali akan membuat mereka semua menyatakan takluk, yang akan menjadi contoh –harapnya—yang akan segera diikuti oleh VI Kota. 

Patroli-patroli yang dikirim pada 28 Juni tak menemukan jejak musuh lagi. Pos kita di Rao-Rao kemudian dipindah ke ketinggian dekat Tanjung Alam. 

Meskipun begitu, Raaff yang kembali ke Pagaruyung pada 9 Juli menerima informasi bahwa para Paderi dari Bonjol, bergabung dengan yang dari Limapuluh Kota dan sebagian kecil Agam, kembali melakukan mars ke Tanjung Alam, dan kampung-kampung yang setelah perang 27 Juni meminta bantuan kita dibakar atau dijarah oleh mereka. Raaff lekas berangkat ke Rao-Rao, ditemani Kapten Goffinet dan satu detasemen infantry, dan tiba di sana pukul 1 tengah malam. Houwitser dan zesponder[4] juga diangkut oleh satu detasemen lainnya. 

Ketika bulan sudah di puncak, perjalanan langsung diteruskan untuk dapat mencapai pos di Tanjung Alam sebelum fajar. Di sini Raaff menerima kabar dari kapten Laemlin yang memegang komando di sana, bahwa kekuatan Paderi mencapai 13-15.000 lelaki bersenjata di bawah seorang Tuanku dari Bonjol, dan mereka tampaknya berniat menyerang Belanda. Memang kemudian pada pukul 9 pagi, para musuh dengan sangat teratur dan percaya diri maju di sisi kanan dan kiri perbukitan, untuk memanjat bukit di mana pos kita berada. Pergerakan ini awalnya susah payah dibendung, tapi ketika kemudian tembakan artileri memberi efek lebih baik, mereka bergegas balik kanan.  Laemlin dan Goffinet mengejar mereka dan menurut kesaksian Raaff menunjukkan “keberanian dan sikap yang luar biasa.”

Pada 12 Juli Raaff kembali ke Pagaruyung, dan komando atas Tanjung Alam diserahkan lagi ke Laemlin. 

 Karena tidak melihat tindak lanjut dari surat-surat yang dikirimkan pada akhir-akhir Juni, Raaff mengambil kesimpulan bahwa adalah hal sia-sia menunggu respon positif dari para penduduk VI Kota, “apabila mereka tidak dengan lebih keras diarahkan ke sana”; untuk maksud itu, dia memerintahkan seluruh sekutu Melayu bersenjata berkumpul 17 Juli di Gunung dan Batipuh. 

Sementara itu, pas sekembali ke Pagaruyung dia menerima kabar dari Kapten Laemlin bahwa orang-orang Paderi dari Agam sedang dalam perjalanan dan kelihatannya berencana mengarah Tanjung Alam; dengan jumlah sekira 15.000 orang, mereka telah melewati Kota Besar.

Raaff segera kembali ke Tanjung Alam, di mana dia kemudian mendapati sejumlah besar sekutu Melayu yang telah berkumpul atas keinginan sendiri. Dia kemudian diiringi oleh Kapten Goffinet dengan satu detasemen tangguh dan dua pucuk artileri berat, sehingga kita pada 14 Juli sudah dalam posisi kuat untuk menghalau musuh. 

Letnan Satu J de Liezer menerima perintah untuk bermanuver di sepanjang Padang Tarok di balik Kota Besar untuk menyerang musuh dari belakang; ketika maneuver ini dilakukan, kaum Paderi telah berada di front, menerima serangan hebat dari Laemlin dan Goffinet. Mereka kemudian dipaksa mundur; pergerakan mundur mereka begitu cepat sehingga zesponder, walau sudah ditarik 200 kuli, sulit untuk menjangkau. Korban di pihak kita kali ini pada 10  dan 14 Juli sebanyak 17 orang (1 tewas, 6 berat dan 10 luka ringan). 

Selama 14 dan 15 Juli pasukan bermalam di sekitar Candung, Raaff menerima berita bahwa di Padang –untuk mengganti korban yang berjatuhan—dari Jawa telah datang 80 personil Eropa dan 40 pasukan pribumi di samping 2 perwira, seluruhnya dari Batalion ke-19. Hal ini menguatkan niatnya untuk menggunakan kekuatan baru untuk melakukan penetrasi dan penaklukkan VI Kota; karena itu, houwitser dan zesponder dikirim kembali ke Gunung serta tindakan-tindakan yang perlu dilakukan, sebagai kesiagaan mempersiapkan pergerakan terhadap VI Kota pada 18 Juli. 

Pada tanggal tersebut pasukan kita akhirnya menyerang VI Kota. Perlawanan yang diterima ternyata tidak berarti, sehingga hanya 4 orang di pihak kita luka ringan. Di balik Koto Lawas para perempuan dan anak-anak berkumpul, sementara kaum lelaki melucuti senjata dan menyatakan bersedia menyerah. Permusuhan langsung dihentikan. Menurut penuturan, ketika pasukan kita mendekat dan ketika meriam dibunyikan, para pemimpin pribumi dan hulubalang mereka langsung ambil langkah seribu.

Penaklukkan Koto Lawas diikuti dengan pendudukan kampung-kampung lain di VI Kota, yang menurut Raaff,” Kedamaian akhirnya tercipta, dan perhubugan yang diharapkan antara Pariaman, Agam dan Tanah Datar demi keuntungan-keuntungan komersil signifikan bagi daerah pesisir bisa diwujudkan.” Untuk menjamin semaksimal mungkin keuntungan tersebut disarankan relokasi pos dari Goenoeng [Gunung] ke Goegoeq Sigandang [Guguk Sigandang], suatu daerah dekat Pandej-Sikat [Pandai Sikat] dan pada ketinggian yang membayanginya. [5]

Raaff bersama Residen yang mengikuti ekspedisi tersebut tinggal masih tiga hari lagi di VI Kota; mereka menerima kunjungan banyak pemimpin pribumi yang bermaksud bergabung dengan kita dan menyatakan sumpah. Setelah itu, barulah mereka kembali ke Pagaruyung.

Di Agam kini hanya ada dua distrik yang kurang bersahabat: Tilatang, di mana terletak benteng Kapau dan sebagian Padang Tarok. Sebelum melakukan tindakan ofensif ke Lintau, sangat penting menguasai dua tempat tersebut lebih dulu, sehingga tidak perlu mengkhawatirkan gerakan-gerakan permusuhan dari sana yang akan mengarah pada terpecahnya kekuatan. Pengalaman telah mengajarkan bahwa untuk menyerang Lintau perlu konsentrasi kekuatan yang maksimal. 

Residen dan komandan militer sepakat bahwa untuk pertama perhatian diarahkan ke Kapau.[6] Di Tanjung Alam, dari mana kekuatan terbesar akan digunakan dan masih diisi oleh 60 personil Eropa ditambah 300 Melayu bersenjata api, bergabung lah pada 13 Agustus jumlah pasukan berikut, di luar pasukan benteng itu sendiri: 9 opsir, 167 tentara Eropa, 15 tentara inlander, 5-6.000 Melayu bersenjata, dan artilerinya 1 houwitser, 1 zesponder, 1 kanon 1 ½ thumb serta amunisi yang diperlukan. 

Letnan de Liezer bersama orang-orang Melayu, 44 tentara Eropa dan kanon 1 ½ thumb ditugaskan ke Koerei [Kurai] yang menurut info letaknya satu jam dari Kapau; kemudian, Kapten Goffinet menerima misi bersama pasukannya menyerang Koto Tinggi, 3 jam dari Tanjung Alam. Di sini menjelang pagi esoknya, menunggu Letnan Kolonel Raaff dengan pasukan-pasukan lainnya.[7]

Raaff sampai pada 14 Agustus pukul 7 pagi dan memutuskan untuk pertama sekali menundukkan Baso. Goffinet yang selain mengepalai pasukannya sendiri juga membawahi Kapten Brusse dengan satu detasemen tentara pribumi dan zesponder mengusahakan serangan pada sayap kiri, sementara Raaff dengan ditemani Laemlin dan meriam houwitser menyerbu di front. Belum jam 9 Baso sudah ditangani.

Dari sini pasukan kita mengarah ke Lundang yang melakukan perlawanan lebih keras. Serbuan pertama gagal, baru pada serangan kedua kampung ini ditaklukkan; banyak Paderi yang lari dihabisi oleh para penduduk yang memihak kita, sementara dua revolver bass metal dan satu lilla [?] tembaga jadi rampasan.

Lanjut terus dari sana, menjelang sore Raaff sudah berada di antara Lubuk Agam dan Kapau, merencanakan di pagi esok akan menyerang tempat yang disebut kedua pada satu sisi, dan sekaligus oleh de Liezer yang telah sampai di Kurai pada sisi lainnya. Hampir sampai di bivak, Raaff menerima info dari Letnan Dua PF Creemer, bahwa Kapten Goffinet luka serius dan Creemer yang mengambil alih komando sudah sampai dengan detasemennya dan zesponder-nya di Sungai Janiah. Baik Creemer dan de Liezer menerima perintah untuk ikut serta ke Kapau besok pagi. 

Pada 15 Agustus, pagi pukul 06.00, Raaff mengetahui dari bunyi letusan zesponder dan kanon 1 ½ thumb bahwa kedua opsir tersebut telah memasuki wilayah musuh. Segera dia bergabung untuk melakukan serangan. Setelah dua lemparan granat dengan kesulitan menyeberang di bawah hujanan tembakan, Raaff berhasil memposisikan houwitser pada posisi strategis, dengan harapan sejumlah granat yang dilempar ke arah musuh akan menimbulkan kepanikan, sebab musuh sudah dikepung dari tiga sisi sekaligus; dan ini menjadi niat Raaff memanfaatkan momen tersebut menyerang benteng utama kaum Paderi. 

Serbuan ini segera dilawan dengan ketabahan dan keberanian yang sama besarnya. Namun ketika mendekat parit lebar dan dalam yang mengelilingi pertahanan yang dituju, dirasa tidak mungkin diseberangi tanpa alat bantu memadai di bawah hujan tembakan musuh. Pasukan kita berusaha menjauh dari jangkauan tembakan musuh dan mempersiapkan strategi serangan baru. Mereka berusaha sedikit mungkin membuang waktu karena kabarnya de Liezer beserta pasukan orang-orang Melayu sedang bertempur habis-habisan.

Untuk serangan kedua 300 sampai 400-an orang Melayu berbekal bambu, cabang-cabang kayu, jerami, gambut serta bersenjata parang untuk mempermudah akses ke parit dan merambah ranjau duri yang mengelilingi benteng. 

Sangat wajar mengharapkan keberhasilan dari serbuan kedua ini; tapi ketika pasukan kita kembali mendekat parit, orang-orang Melayu tiba-tiba ambil langkah seribu dengan alat-alat yang dibawa sehingga tentara Eropa terpapar langsung tembakan senjata api yang fatal. Bagaimanapun para perwira mencoba bertahan—karena banyaknya musuh, kuatnya benteng dan sedikitnya bantuan dari orang Melayu, serangan tersebut jadi sia-sia, sehingga mereka kembali menjauh dari jangkauan tembakan musuh. 

Kegagalan tersebut sebagian akibat dari tidak tepat waktunya gerak maju Letnan Creemer beserta detasemennya. Opsir ini awalnya mendapat sejumlah keuntungan, tapi kemudian kembali ke Bassoh [Baso] dengan meninggalkan zesponder. Nyaris bersamaan ketika Raaff menerima kabar ini, dia menerima laporan dari Letnan de Liezer bahwa serangannya ke Kapau tidak berhasil dan dengan melihat korban dari serangan sebelumnya, dia yakin serangan berikut akan membawa hasil lebih baik. 

Dalam situasi ini pasukan kita terpaksa menarik diri; de Liezer menerima perintah istirahat di Guguk Sigandang dan Raaff bersama pasukannya kembali ke Baso. 

Situasi terluka beratnya Kapten Goffinet tampaknya membawa dampak buruk bagi kinerja bawahannya. Tak hanya Letnan Creemer yang gagal paham tujuan sesungguhnya dari Komandan Ekspedisi, tapi karena dia tak mahir bahasa Perancis dia tak bisa sepenuhnya mengendalikan pasukan yang sebagian besar orang Perancis; mereka lagipula baru sampai di Batavia, belum pernah perang dengan pribumi dan karena melihatnya banyaknya jumlah musuh di medan tempur mulai menciut nyalinya. Pasukan bantuan orang-orang Melayu, segera setelah Goffinet meninggalkan medan, mayoritas kembali pulang. Ibarat jatuh tertimpa tangga, as zesponder juga patah yang diketahui musuh dan membuat mereka melakukan serangan hebat sehingga kuli-kuli pribumi yang bertugas mengangkut perbekalan segera ambil langkah seribu. Meskipun kanon akhirnya ke tangan musuh, Raaff memandang gerakan mundur ke Baso masih sangat wajar dan dia merasa tak perlu menyalahkan Letnan Creemer yang selama ini telah dikenal sebagai “perwira yang tenang dan berani”. 

Korban di pihak kita pada seluruh tahapan serbuan ke Kapau: 5 perwira (Kapten L Goffinet, beberapa hari kemudian tewas karena luka-lukanya; Letnan Dua HC van der Veen, tewas; Letnan Dua Teissier, luka berat; Kapten HL Brusse dan Letnan Dua C van Ocshee, luka ringan) dan 82 personil lainnya (9 tewas, 40 luka erat dan 33 ringan).

Kematian para perwira, khususnya Goffinet yang dikenal tangkas dan berani, sangat disesali oleh pasukan di Sumatera Barat, dan Raaff sendiri kehilangan sokongan yang kuat dari seorang Goffinet.

Setelah penarikan pasukan tuntas, Raaff kembali pada 19 Agustus melalui Tanjung Alam menuju Pagaruyung. Melihat kegagalan yang terjadi serta kerasnya perlawanan musuh, Raaff dalam laporannya tanggal 31 Agustus 1822 meminta penambahan kekuatan yang cukup besar, baik dalam hal personil maupun materil, serta mengharapkan dikirimnya satu kapal perang. Seperti nanti terlihat, permintaan ini segera dipenuhi. 

Sewaktu menanti tambahan kekuatan, posisi defensif hendaknya diambil sesering mungkin; tapi kenyataannya berbeda, Raaff terpaksa beradu senjata nyaris sebulan penuh pada September, baik di distrik Limapuluh Kota maupun di Agam dan VI Kota, tidak berhenti menahan laju agresif kaum Paderi. Akibat pergerakan musuh ini, Raaff sering berada dalam posisi yang sangat sulit, tapi perkembangan situasi memperlihatkan bahwa keadaan tak sepenuhnya merugikan pihak kita. Keuntungan kecil yang terkadang didapat musuh tidak semakin membesar, ditahan oleh usaha keras pasukan kita serta pertolongan dan dukungan tulus dari penduduk yang berani melalui aktivitas-aktivitas menghadapi kaum Paderi. 

Bukti-bukti dari hal ini tampak pada beberapa tahapan yang ditempuh para kepala sebelum menyatakan taklukdiri; mereka merasa bahwa akhirnya kita lah  pihak yang paling kuat.

Oleh sebab itu Raja Muning[8] yang tua–raja yang sah dari Kerajaan Lama Pagaruyung, yang beberapa tahun lalu ketika Tuanku Pasaman menyerang dan membunuh sebagian besar bangsawan Pagaruyung dengan cara licik sehingga beliau lari dari persekusi kaum Paderi—memberitahukan kepada Raaff tempat persembunyiannya melalui seorang utusan. Oleh Raaff utusan ini dipesankan bahwa dia sangat menanti-nanti kembalinya Raja Muning menjadi penguasa Kerajaan Pagaruyung. Menurut Raaff, cara ini akan ampuh untuk menjamin perdamaian, khususnya karena pemimpin-pemimpin di Limapuluh Kota telah menunjukkan keinginan untuk bergabung dengan kita.

Raja Muning, meski nanti memang kembali ke Tanah Datar, lebih memilih untuk tidak tampil di depan berhubung usia sudah senja; dia diberikan apresiasi uang pensiun dan meninggal 1 Agustus 1825, umur 80 tahun (Resolusi Gubernur Jenderal pada 28 Desember 1825 No. 5). 

Setelah kekalahan di Kapau itu (13 s/d 16 Agustus 1822) tidak terjanji gangguan keamanan sampai 8 September, ketika diterima berita tentang pergerakan-pergerakan kerusuhan di Agam. 

Letnan de Liezer, yang memegang komando di Guguk Sigandang, menerima informasi kaum Paderi tampaknya berniat menyerang VI Kota: Banu Hampu dan Kurai sudah mereka bumi hanguskan. Menurut Kapten Brusse, yang bermarkas di Tanjung Alam, serangan Paderi tersebut akan dipusatkan ke posnya dan melalui Barulak serta Tanjung Alam, musuh akan melakukan penetrasi ke Tanah Datar. Dari informasi-informasi ini, Raaff menyimpulkan kaum Paderi melakukan pergerakan pada dua titik berbeda dan bermaksud menembus Tanah Datar dan VI Kota menuju Pesisir Padang. 

Karena dia berpendapat pemeliharaan pos di Tanjung Alam lebih penting, dia berangkat ke sana pada 10 September dengan satu detasemen 50 orang Eropa di bawah Letnan CJ Le Roux; pos di Guguk Sigandang diperkuat dengan 20 personil di bawah Letnan Satu TL van Straceelen. Raaff memutuskan bahwa kedua detasemen itu bisa saling membantu jika nanti ternyata Paderi mengarahkan kekuatan utama mereka pada salah satu pos. 

Baru saja Raaff tiba di Tanjung Alam, van Straceelen yang datang dari Guguk Sigandang bergabung dengannya, dengan informasi bahwa kaum Paderi di Rao-Rao dibantu Paderi dari Bonjol dalam perjalanan ke Sungai Puar dengan kekuatan 20.000 orang; bahwa semua yang melawan mereka akan dibinasakan, dan mereka akan memulihkan kembali kekuasaan pemimpin Kota Lawas yang kabur pada 18 Juli.[9]

Masalah terberat musti mendapat prioritas.[10] Karenanya, Raaff memutuskan membiarkan Tanjung Alam sendirian dan dia berangkat bersama detasemen di bawah le Roux ke Guguk Sigandang. Sebelum terbit matahari pada 11 September Raaff sudah ada di Guguk Sigandan, di mana dia mendengar dari de Liezer bahwa pasukan besar Paderi berkumpul di Kurai, Banu Hampu dan Padang Luar untuk bersiap menyerang VI Kota dengan maksud menembus wilayah pesisir. 

Ketika Raaff pada 12 September mengumpulkan 5.000 s/d 6.000 orang Melayu, dia kemudian dengan satu detasemen berisi 50 personil [Eropa] serta satu meriam besi drieponder dengan dudukan kereta meriam menuju Sungai Puar. Jarak se-jam dari tempat ini kaum Paderi didapati telah berkumpul. Menghadapi kedatangannya, mereka membentuk posisi satu lini panjang dengan sayap kanan setentang barisan Gunung Singgalang. Raaff segera menyerang sayap kiri musuh hingga mereka membuka jalan; tapi sayap kanan, ketimbang mengikuti pergerakan ini, bergerak maju dengan kekuatan luar biasa serta menempati daerah di antara pasukan kita dan pos Guguk Sigandang, sehingga kita tidak mungkin ke belakang. Pada saat yang sama satu divisi dari kaum Paderi, di sepanjang lereng Singgalang, mengancam VI Kota. Raaff yang merasa tidak cukup kuat untuk menghalau musuh karena satu dan lain hal harus memutuskan untuk mundur. 

Sampai di ketinggian Koto Baru dan Ajer Angat [Aia Angek], Raaff mendapat momen dan menguntungkan. Di sana dia menerima tiga kepala distrik yang setia—dari Gunung, Batipuh dan Sumpur—yang meyakinkannya bahwa tidak ada hal yang urgen dilakukan untuk penduduk VI Kota. Mereka tidak sungguh-sungguh melawan kaum Paderi, dan bahkan di benteng Pandai Sikat sudah banyak yang bergabung dengan musuh. Mereka meminta agar Raaff tidak melanjutkan ekspedisi ke VI Kota.

Oleh karena itu, komandan ekspedisi menjelang malam memutuskan balik ke Guguk Sigandang. Di Koto Baru tinggal sebagian pasukan penjaga yang akan melakukan patroli; mereka membenarkan berita yang diterima Raaff di atas. 

Benteng di Guguk Sigandang yang masih belum sepenuhnya siap tidak akan mampu menahan satu serangan hebat. Juga ada di sana 3 (tiga) orang yang sakit dan 8 (delapan) orang terluka tanpa bantuan medis apa pun, dan info-info yang diterima dari Tanjung Alam semalam itu sangat tidak bagus. 

Setelah berdiskusi dengan opsir-opsir yang ada, pada tanggal 13 Raaff sampai pada kesimpulan untuk membiarkan Guguk Sigandang untuk mengambil posisi di antara Batipuh dan Gunung di mana dia bisa lebih bebas bergerak. Orang-orang sakit dan terluka, kanon besi 3 thumbs dan kanon metal 1 ½ thumbs (yang sejak tanggal 15 Agustus tidak difungsikan lagi) pertama-tama dievakuasi dengan bagasi para perwira dan personil pasukan; Raaff sendiri terakhir bersama beberapa pengawal. Kaum Paderi segera merebut Guguk Sigandang. 

Info-info yang berkembang tentang pergerakan mereka mengharuskan Raaff melakukan sejumlah manuver pada 13 dan 14 September, di mana mereka tidak kontak langsung dengan para musuh. Kaum Paderi yang puas dengan kesuksesan mengusir pasukan kita dari VI Kota, tidak mengusik pos Belanda di Gunung. 

Sementara itu, kabar dari Tanjung Alam juga tak sedap. Pagi tanggal 15 September Raaff menerima sebuah surat dari Kapten Brusse, isinya antara lain:” Bahwa bagi dirinya, juga bagi perwira-perwira dan pasukan lain bersamanya, adalah malam ke-empat tanpa istirahat; bahwa mereka semua berjanji akan mati-matian mempertahankan pos mereka dan akan menjaga janji tersebut, tapi mereka kini khawatir (di mana para musuh semakin mendekat Barulak, yang mana hanya sungai yang sekarang melindungi mereka serta diusahakan mati-matian agar tidak diseberangi); bahwa Limapuluh Kota bahkan bisa memutus hubungan mereka dengan Raaff apabila mereka tidak bisa apa-apa lagi dan mereka pun yakin akan kalah, karena komunikasi dengan Pagaruyung pun terputus, sejak tanggal 10 tidak menerima kabar apa pun dari Kapten Laemlin di sana; bahwa lagipula mereka, tanpa bantuan orang-orang Melayu di mana penduduk Barulak dan Tanjung Alam yang tidak seberapa, semakin lama kekurangan logistik yang karena telah dijarah tidak bisa juga dibeli dengan uang, itu pun di bawah tembakan terus menerus dari arah Barulak; mereka menunggu perintah selanjutnya dari Raaff.”

Oleh karena orang-orang Paderi di Utara Gunung sebagian besar sudah memencar sebab kekurangan bahan makanan, Raaff dalam suratnya memutuskan mempercayakan komando di Gunung kepada de Liezer dan secara pribadi dia langsung menuju Tanjung Alam. 

Raaff mengambil jalan melalui Pagaruyung, untuk mengetahui apa yang terjadi di sana dan mendapati sang komandan, Kapten Laemlin, dalam keadaan sakit parah. Sudah tiga hari 1500-an Melayu sekutu kita berkumpul di sini. Raaff memerintahkan sejumlah 40 orang terluka parah dievakuasi ke Padang, lalu membeli 50-an ekor sapi serta sejumlah besar beras untuk keperluan benteng di Tanjung Alam. Dengan logistik tersebut, Raaff menuju pos Tanjung Alam dan sampai pada pagi tanggal 16. Dia mendapati pos pembantu di Barulak sedang bertempur melawan musuh dan mengutus Kapten Brusse bersama tambahan kekuatan ke sana, sehingga Paderi memilih agak mundur; tapi untuk hari-hari pertama, Barulak masih dalam ancaman besar. 

Pada 21 September Raaff mendapat kabar dari Toewankoe Kota Toea (Tuanku Koto Tuo), seorang pemimpin berpengaruh di Agam dan lawan kaum Paderi yang dari awal tidak senang dengan tindakan-tindakan kekerasan yang mereka lakukan. Meskipun apa yang terjadi akhir-akhir itu, Tuanku Koto Tuo tersebut berhasil membuat kesepakatan dengan sejumlah distrik di Agam, seperti Candung, Padang Tarok dan lainnya untuk bersama-sama menghadapi kaum Paderi, dan juga dalam hal apa pun yang terjadi tetap mengikuti instruksi dari otoritas Belanda; dengan para pemimpin dari Rao, Bonjol dan lain-lainnya dia juga telah berbicara, sehingga kaum Paderi yang berasal dari sana kembali pulang; Paderi dari Kapau akhirnya juga tak keberatan melakukan negosiasi. 

Kebenaran informasi ini menyebar sangat cepat sehingga musuh-musuh kita segera mengosongkan medan tempur, dan di hari-hari terakhir September maupun dalam bulan-bulan berikutnya kedamaian tidak terusik. Karenanya muncul banyak kesempatan untuk mengurus hal-hal mengenai manajemen internal pada daerah-daerah dalam otoritas kita. Negosiasi-negosiasi dilakukan dengan para pemimpin distrik-distrik tersebut, yang –seperti disampaikan Jenderal de Kock dalam laporannya,” Memberikan harapan berdasar bahwa hal-hal yang berkaitan dengan Padang — setelah datangnya tambahan kekuatan yang dikirimkan dan info sampai-nya telah terkonfirmasi– akhirnya berakhir menguntungkan bagi Pemerintahan kita”.  

 Ilustrasi @mithamiwuwu

Catatan Kaki:

[1] Lange (I hal. 59) menulis bahwa kepada Pasaman “ditawarkan gencatan senjata”. Dari yang terlihat di atas, pendapat tersebut agak kurang pas.

[2] Lange mengatakan (I hal. 60) “dengan penduduk IV Kota, bersatu dengan Limapuluh Kota.” Namun, dalam laporan Jenderal de Kock tidak ada disebut-sebut IV Kota; yang dituju oleh Lange dengan IV Kota adalah kawasan yang mencakup Tanjung Alam (hal. 29, baris 26e), padahal menurut kami kampung tersebut tidak dengan nama itu, malahan ketika itu bagian dari Limapuluh Kota. 

[3] Menurut Lange (I hal. 60) ada “beberapa” ribu kaum Paderi. Ini mungkin salah tulis.

[4] [Six-ponder—6-ponder gun, semacam meriam atau senjata api yang menembakkan proyektil seberat 6 pounds atau 2,7 kg—penerj.], 

[5] Dalam tulisan ini, secara umum kita mengikuti ejaan nama-nama daerah pada Atlas yang dimuat dalam “Topographische en geologische beschrijving van een gedeelte van Sumatra’s Westkust” oleh RDM Verbeek, terbit 1883. Hanya beberapa nama yang nyata-nyata keliru kita perbaiki, seperti Pandej-Sikat, bukan Padang Sikej,  lalu Banoe Hampoe (ejaan Regeerings-almanak), bukan Boenga Ampoh dan beberapa lainnya. Namun, Goegoeq Sigandang tidak ada pada lembar peta; bukit ini terletak antara Koto Lawas dan Pandej Sikat. Tempat ini sekarang tidak dihuni, tapi masih dapat dijumpai sisa-sisa dinding benteng kita sebelumnya. 

[6] Seperti tampak kemudian, pada 15 September sebelum sempurnanya penguatan benteng, Guguk Sigandang terpaksa sementara dikosongkan. Pos di Gunung tetap dipertahankan.

[7] Hal ini agak berbeda dengan detail dari Lange (I hal. 69). Menurut kami, data ini lebih tepat. 

[8] Gelar penuhnya adalah “Daulat yang Dipertuan Raja Muning, Raja Alam, yang Kareja-an [sic!] di dalam Alam Minangkabau.”

[9] Apa yang disampaikan oleh Lange (I hal. 76) tentang kepala ini—Tuanku Mensiangan—bahwa yang bersangkutan datang menyerahkan diri pada 18 Juli dan tak lama setelah itu kembali mengangkat senjata pada kita, tidak dapat dikonfirmasi dalam sumber-sumber kita. 

[10] Wat het zwarste was, moest het zwarste wegen.

 

About author

Penerjemah bernama lengkap Novelia Musda, SS, MA. Lahir di Rengat, Riau, tanggal 8 November 1982. Kampung Ibu di Sumanik, Tanah Datar, dan bersuku Koto Piliang, dan bako di nagari Kolok, Kota Sawahlunto. Pendidikan S1 dilakukan di IAIN Imam Bonjol Padang 2000-2005, masuk dua tahun pertama sebagai mahasiswa jurusan Perbandingan Agama, Fak. Ushuluddin dan keluar sebagai alumni jurusan Sastra Arab, Fakultas Adab. Untuk S2 dijalani 2008-2010 di jurusan Islamic Studies, Universiteit Leiden. Sejak 2011 bekerja sebagai PNS yang baik di Kementerian Agama, sekarang di Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Sumbar. Minat akademis dulunya waktu kuliah filsafat eksistensialisme khususnya Nietzsche. Tapi sekarang sudah tak punya banyak waktu lagi untuk pusing memikirkan apa yang ada di antara ada dan tiada, dan lebih banyak membaca hal-hal praktis seperti sejarah serta mistisisme Islam dan Hindu serta belajar menerjemah khususnya dari karangan-karangan penulis Belanda tentang Minangkabau abad lampau dan tetap terus belajar bahasa asing sebagai cara efektif untuk menghibur sekaligus menyusahkan diri sendiri.
Related posts
Artikel Terjemahan

Sumatera Barat 1819-1825 (Bagian III)

Artikel Terjemahan

Sumatera Barat 1819-1825 (Bagian II)

Artikel Terjemahan

Sumatera Barat 1819-1825 (Bagian I)

Artikel Terjemahan

Dua Bulan di Padang Darat dan Padang Pesisir (Bagian III)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *