RINDAE adalah Rin Hermana dalam wujud musisi. Setidaknya dapat dimaknai begitu, karena Ia tidak bisa memberikan alasan yang jelas terkait penggunaan nama Rindae dalam proyek musik solo pertamanya ini. Sebelumnya, Rin dikenal sebagai komika. Ia aktif dalam komunitas Stand Up Comedy, di Padang dan di Jakarta. Rutin mengikuti kompetisi Stand Up dan tak jarang pula berhasil menjadi juara. Masuknya Rin dalam skena permusikan menyiratkan betapa kerasnya dunia Stand Up comedy ibukota. Dapat kita lihat banyak komika yang sehari-harinya tidak hanya melawak berdiri, tetapi juga nyambi jadi aktor, siniar, musisi, konten kreator, ataupun pegawai kantoran.
“Pangka Mulo” menjadi single pertama yang dirilis. Mengusung musik Nu-metal, Rin menggabungkan hip-hop dan heavy metal dalam single yang dirilis maret lalu itu. Terkait Nu-metal, Rin memiliki alasan kuat kenapa Ia memilih subgenre metal alternatif ini dalam projek musiknya. “Karena saya tidak bisa nyanyi” tegas Rin ketika kami berjumpa beberapa waktu lalu. Ia mengakui kalau tidak bisa bernyanyi merdu sehingga memutuskan untuk memainkan Nu-metal—karena dianggap cocok dengan karakter suaranya. “Sejak SMP saya sudah suka dengar Rage Against The Machine, Limp Bizkit, Linkin Park,” Ucap Rin memaparkan referensi musiknya pada saat remaja.
Tak jelas apa yang dimaksud Rin dengan tidak bisa bernyanyi merdu. Akan tetapi, yang pasti memainkan Nu-metal jadi pertaruhan awal bagi Rin untuk memulai karir musiknya. Sebab, jenis musik ini sering dianggap overhated sejak awal kemunculannya. “The worst genre of all time” tulis Lucy Jones seorang jurnalis musik dari NME. Musik yang oversatured sejak awal 2000an menjadikannya metal pop, dan kemudian kena backlash oleh para jurnalis musik. Vokalis Deftones Chino Moreno bahkan pernah bilang kalau “Nu-metal mungkin agak norak, tapi hal itu bukan jadi halangan bagi siapa pun yang mau menikmatinya”. Ada benarnya, lagi pula musik itu hidup di telinga para pendengarnya, bukan di tulisan-tulisan para jurnalis musik ngehek.
Rantau jadi tema utama dalam lagu ini. Liriknya ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Minang. Menolak menyanyikan rantau dengan cara mendayu-dayu seperti musisi asal Minang terdahulu, Rin memilih memekikkannya. Hal ini yang kemudian menyiratkan terdapat perbedaan tentang pemahaman rantau hari ini dengan rantau dahulu. Di antara keputusasaan dan harapan, lagu ini bercerita tentang orang kalah yang harus merantau untuk melanjutkan hidup. Kalah dalam arti terlempar dari sistem ekonomi lokal, tanpa privilese, tanpa akses pada pendidikan, koneksi dan modal. Berdiri di persimpangan antara budaya dan struktur—rantau hari ini bukan lagi semata-mata tentang ritus sosial atau kewajiban moral pria minangkabau. Akan tetapi wajah ketimpangan struktural dan pembangunan yang terpusat. Walaupun cerita baik selalu disampaikan ke kampung, tidak sedikit yang gagal dan diam, bertahan, dan pulang tanpa apa-apa.
Bunyi-bunyian saluang, rabab, dan talempong terdengar jelas mengiringi riff gitar dan vokal pada lagu ini. Serupa menonton film-film yang berlatarkan Sumatera Barat dengan scene yang selalu dimulai dengan bunyi-bunyian tradisional Minang yang menyorot sawah-sawah berteras di kaki Gunung Marapi. Hal ini memang membuat sebuah karya terlihat lebih eksotis, estetis, dan unik dan menjelaskan dengan konkrit identitas pengkarya. Akan tetapi, pembekuan budaya seperti ini cenderung hanya melihat budaya sebagai sesuatu yang eksotis, tradisional, dan otentik tanpa memberi ruang pada dinamika modern, konflik sosial-budaya, dan perubahan. Juga, kebanyakan cuma menjadi tempelan, alih-alih memiliki peran penting dalam struktur karya tersebut.
Dalam kata lain, cara-cara ini acap kali digunakan oleh seniman asal Minang lainnya, baik dalam musik eksperimental maupun film. Saya memahami Rin terkait keinginannya untuk menampilkan ke-Minangkabauan-annya, akan tetapi kita butuh pembaruan, sesuatu yang segar. Jika ada sesuatu yang cukup segar yang ditawarkan Rin ialah upayanya membenturkan imaji akan kampung halaman yang eksotis itu dengan lirik yang bercerita tentang kampung halaman yang kacau balau sebagai pangkal mula perantauannya yang sama sekali tidak mudah serta romantis.
“Jan manyarah, gasak taruih” pekik Rin dalam lagunya. Ia mungkin mencoba menyemangati dirinya serta perantau asal Minang lainnya yang kebetulan mendengar lagunya. Sayangnya, Rin tidak menyelam lebih dalam ke pangka mulo, ke asal-usul/sebab-musabab keterusirannya dari kampung serta kerasnya kehidupan rantau. Rin tidak bertanya lebih jauh kenapa ia sampai “tak punya privilege” di kampung halaman. Apakah maksudnya Rin berasal dari garis keturunan ‘non-bangsawan’, kelas terbawah dalam hierarki sosial masyarakat Minangkabau yang tidak punya harta pusaka/tanah ulayat kaum yang bisa ia gunakan sebagai modal ekonomi dan politik, misalnya. Seandainya Rin punya semacam kesadaran kelas, tentu lagunya akan menyerempet ke arah sana. Budaya Minangkabau yang sesungguhnya dapat tersingkap. Karyanya tidak terhenti sebagai ‘lagu motivasi’ saja di tengah kondisi yang makin menindas ini.
Jika saja Rin punya kesadaran kelas, rantau (dan perantauan) dalam lagunya barangkali akan dilihat tidak sebatas ‘dunia yang memang begitu adanya sejak dulu kala’ melainkan sebagai konsekuensi kekalahan struktural yang punya sejarah panjang—ketika tidak ada lagi tanah untuk digarap, pekerjaan, dan ruang untuk bertahan sehingga rantau menjadi satu-satunya jalan keluar. Rantau di mana Rin menolak kalah, dan pekikan “Jan manyarah, gasak taruih” hanyalah paracetamol bagi para perantau yang babak belur.
Tentu ini bukan salah Rin ataupun orang-orang yang ikut urunan menggarap proyek ini. Karena satu-satunya yang bisa disalahkan adalah kapitalisme dengan perang budayanya yang membuat banyak sekali seniman dan karyanya akhirnya menjadi ‘buta kelas’ dan lebih suka bicara ‘seni untuk seni’. Kalaupun ada yang punya kesadaran kelas, maka ia akan lebih disibukkan oleh perjuangan hidup hari demi hari ketimbang membaca literatur-literatur ekonomi sosial politik. Tidak mudah memang. Tapi saya tetap menaruh harapan, akan tiba masanya ketika musik tidak sekadar menjadi distraksi dari realitas sosial dan sebagai karya seni hanya berakhir menjadi kitsch. Karya-karya tentang kampung dan rantau, akan menjadi lebih bermakna dan betul-betul baru secara isi dan musikalitas. “Pangka Mulo” sudah menempuh separoh jalan ke arah itu.
“Pangka Mulo” nantinya akan ditemani sembilan lagu lainnya yang akan dirilis dalam format album. Album ini diproduksi secara mandiri dan diperkirakan akan rampung tahun ini. Saat ini sudah bisa didengar di berbagai platrfom musik online. Mari kita nantikan. (*)
Editor Randi Reimena
Artwork RINDAE