Bumi telah mencapai puncak peradabannya—begitu katanya. Segalanya kini serba otomatis, presisi, dan steril. Tidak ada lagi perburuan liar, tidak ada lagi jam karet, tidak ada lagi alasan untuk telat masuk kerja. Mesin mengawasi segalanya. Dan negara? Negara bukan lagi sekadar lembaga. Ia adalah Tuhan dalam bentuk paling telanjang—ironisnya, ia sangat membenci ketelanjangan.
Negara kini mengatur segalanya, sampai ke hal-hal yang dulu dianggap hak paling pribadi: cara kau tidur, cara kau mencintai, bahkan cara kau bernapas di tempat umum. Dan tentu saja—cara berpakaian. Kau diwajibkan mengenakan jubah astronot ke mana pun pergi. Entah untuk ke minimarket, ke makam, atau sekadar buang hajat. Katanya: jubah itu simbol peradaban. Penanda bahwa manusia telah menapaki tangga evolusi sosial menuju satu titik tunggal: keteraturan total.
Tapi suatu pagi, kau bangun dengan perasaan asing. Ada hasrat liar yang merayap dari balik tulang belakangmu. Kau ingin berjalan keluar rumah tanpa apapun yang membalut tubuhmu. Bukan karena ingin pamer, bukan pula bentuk protes besar-besaran. Hanya semacam dorongan kecil dari dalam dirimu yang berkata: apa jadinya jika aku tak tunduk, walau hanya satu hari saja?
Kau melangkah keluar tanpa jubah. Angin menyentuh kulitmu seperti tamparan dari zaman purba. Beberapa orang menjerit. Beberapa merekam. Dan dalam waktu kurang dari tiga menit, sebuah drone milik negara sudah datang, menggantung di atas kepalamu seperti dewa murka bermesin. Kau ditangkap. Kena gebuk dan gebah. Diinterogasi. Dituduh sebagai vulgaris, anarkis, komunis, teroris, nudistis, eskapistis, dan semua -is lainnya yang biasa dipakai negara saat panik terhadap sesuatu yang tak mereka mengerti. Lalu kau dideportasi ke Mars—planet karantina bagi siapa saja yang tak sesuai standar estetika kebangsaan.
Dan sekarang kau di sana. Di Mars. Bersama orang-orang terbuang lainnya yang pernah terlalu jujur di depan negara, kau mulai menyusun Manifesto Orang-orang Telanjang. Sebuah upaya mulia, tentu saja. Tapi hari-hari di Mars—tanpa hiburan memadai—membuat penyusunan manifesto terasa seperti upacara kenaikan bendera yang berlangsung tanpa akhir. Lagi pula, kau dan yang lainnya bukan samanera atau samaneri yang sengaja membuang dunia demi pencerahan. Tidak. Kalian cuma manusia biasa yang pernah berpikir bahwa tubuh seharusnya tidak perlu izin. Maka cukup: kau jadi penggagas manifesto telanjang, bukan nabi revolusi.
Dan karena itu—demi menghindari kebosanan yang bisa mengikis kewarasan, demi menjaga agar saraf-saraf tetap lentur dan darah tetap mengalir (meski di tekanan atmosfer 0,006 bar)—kau putar lagu-lagu ini. Biarkan musik menyamarkan denyut gerakanmu. Dengan begitu, revolusi klandestin yang kau bangun di Mars tak akan terlalu cepat dicurigai oleh negara.
David Bowie – “Life on Mars?”
Lagu ini terdengar seperti siaran radio dari dunia yang tak ada, tapi entah bagaimana, kau merasa itu datang tepat ke ruang helmmu. “Life on Mars?” bukan pertanyaan saintifik—ini adalah elegi bagi harapan yang terlalu sering dicabut sebelum sempat tumbuh. Bowie tidak memberi jawaban. Dia hanya memperlihatkan kebingungan dengan lapisan glam dan harmoni yang seperti pesta dansa di ruang pengasingan. Dan kau—yang sekarang tinggal di Mars, bukan metaforis, tapi betulan—terperangkap dalam ironi itu. Judulnya seperti menyapamu secara pribadi, seperti kartu pos dari Bumi yang dikirim sebelum sensor negara menghapuskan humor. Pianonya mengalir seperti monolog yang nyaris percaya bahwa absurditas adalah satu-satunya cara bertahan.
Di tengah lagu, saat Bowie bernyanyi, “It’s the freakiest show,” kau mungkin akan menatap hamparan debu merah yang tak berujung dan mengangguk pelan. Bukan karena setuju, tapi karena tak ada lagi yang bisa kau yakini. Bumi adalah sirkus, Mars adalah ruang tunggu. Dan lagu ini, dengan segala keanehannya yang indah, adalah satu-satunya hal yang mengingatkanmu bahwa dulu, menjadi aneh bukanlah pelanggaran.
Dan saat pianonya meledak ke klimaks, kau teringat bahwa tak ada kamar mandi pribadi di kubah koloni. Kau berbagi dengan empat eksil lain yang semuanya punya manifesto. Satu tentang telanjang, satu tentang mengunyah pelan, satu tentang menolak sabun. Dan di tengah kekacauan itu, lagu ini bekerja seperti kompas spiritual—bukan untuk menunjukkan arah, tapi untuk memberitahumu bahwa tersesat adalah kondisi bawaan manusia.
Monkey to Millionaire – “Merah”
Ada hari-hari ketika kau termenung. Melamun memang kegiatan purba—salah satu bentuk perlawanan terakhir umat manusia terhadap efisiensi. Tapi kali ini, kau melamun sambil memandangi Bumi dari jarak Mars. Dan entah kenapa, Bumi tampak lebih kecil dari yang kau bayangkan. Seperti penyesalan yang disusutkan dalam kapsul.
Agar kau tak tenggelam dalam nostalgia yang melemahkan dan membuat Manifesto Orang-orang Telanjang gagal terbit, kau putar lagu ini—“Merah”, dari Monkey to Millionaire.
Di sana, di alam sana
Semua terlihat sama
Teriakkan bait itu sekuat mungkin. Biarpun penduduk Bumi tak bisa mendengar, mungkin gema suaramu akan menggetarkan kubah koloni, membangkitkan semangat eksil lain yang juga kehabisan kata. Salah satu dari mereka—mungkin yang paling hening—akan menyahut, “Mereka yang kita sayangi, yang paling mampu melukai.”
Oh, merah sudah. Mars merah. Berdarah.
Vokal dan gitar Wisnu Adjie menghantam helm astronotmu dari dalam. Tidak seperti seruan politik atau lagu mars kebangsaan, tapi seperti perasaan yang terlalu lama dipendam dalam tekanan kabin. Kau berdiri, membelakangi Bumi, menghadap horison debu. Dan tahu satu hal: mungkin rusukmu yang dihantam polisi Bumi masih bikin ngilu, tapi setidaknya—setidaknya—kau masih punya lagu ini. Dan selama itu masih ada, harapan untuk membebaskan bumi masih berpendar, betapa pun kecilnya.
Courtney Barnett – “Avant Gardener”
Di hari keenam belas pengasingan, kau mencoba-coba menanam sayur. Bukan karena lapar, tapi karena bosan menatap kalender yang tak pernah bergeser. Lagipula, revolusi tak mungkin tumbuh dari kemalasan—setidaknya begitu kata buku motivasi dari pemikir kiri yang kau baca sambil setengah mencemooh, setengah mencoba mempraktikkan.
Tapi tubuhmu menolak. Baru menggali satu lubang, kau sudah terserang sesak napas. Lalu batuk. Lalu pingsan. Saat sadar, kau terbangun di ruang pemulihan dengan headset yang masih menyala. Lagu Courtney Barnett mengalun datar: “The paramedic thinks I’m clever ’cause I play guitar…”
Lagu ini adalah eksplorasi rasa tak nyaman yang muncul dari apa yang dulu disebut makhluk bumi sebagai rutinitas. Metafora tentang kepanikan akibat siklus yang itu-itu saja beterbangan seperti debu halusinogen di dalam liriknya. Dan di titik ini, kau mulai sadar: pengasingan di Mars masih panjang, dan rutinitas—jika digabungkan dengan sunyi dan tekanan atmosfer rendah—adalah resep ideal untuk menjadi kecoak terbang.
Mendengarkan lagu ini setidaknya bisa menyelamatkanmu dari metamorfosis Kafka. Untuk sementara.
Aesop Rock – “Homemade Mummy”
Pada hari ke-23 pengasingan di Mars, salah satu eksil yang lebih senior darimu ditemukan meninggal. Tubuhnya kaku di dekat ruang filtrasi udara. Dan di momen itu, kau tersadar: sejauh apa pun lompatan peradaban manusia, kematian tetap mengikuti. Kau berdiri memandangi jasad itu. Lalu bergumam dalam hati, “sebab kecemasan itu tak pernah selesai. kini kutempatkan diri di antara wajah pucat rumah duka dan kaca-kaca jendelanya yang memantulkan kegetiran tak bernama…”
Kau langsung menyesal. Ini jelas bukan saat yang tepat untuk mengutip puisi Dea Anugrah.
Di Mars, aturan hidup sederhana: siapa yang mati, lebih baik dibakar. Tidak ada prosesi. Tidak ada doa. Tidak ada bunga plastik. Sipir Mars bahkan berkata, “Kalian ini tak lebih berguna dari kotoran babon.”
Tapi kau tidak setuju.
Dan di situlah lagu ini masuk—“Homemade Mummy” dari Aesop Rock. Lagu tentang seseorang yang memilih memumikan kucing peliharaannya sendiri. Mungkin karena cinta, mungkin karena tidak tahu harus berbuat apa, atau mungkin karena tidak tahan melihat apa pun lenyap begitu saja tanpa jejak.
Kau tidak perlu jadi anak Adam yang ditunjuki burung gagak cara menguburkan saudaranya. Ini bukan kitab suci. Ini zaman ultra-modern. Planet lain. Sinyal Bumi sudah terputus. Yang kau butuhkan sekarang hanyalah lagu ini—sebagai panduan moral, panduan teknis, dan satu-satunya liturgi yang tersisa.
How to make a homemade mummy:
Get a corpse, get gauze, get comfy
Dari lirik awalnya saja, Aesop Rock telah mengulum dan memuntahkan kiat-kiat mumifikasi yang layak kau jadikan bekal hidup—dan mati—di Mars.
***
Begitulah—kumpulan lagu yang sebaiknya kau dengarkan ketika kau dibenamkan dalam pengasingan di Mars. Lagu-lagu ini tidak dirancang untuk membuatmu bahagia—karena mana ada orang yang bahagia di pengasingan sialan! Tapi setidaknya, lagu-lagu ini dirancang agar kau tidak sepenuhnya hancur. Agar otakmu tetap lentur, emosimu tidak mengkristal, dan kau masih bisa menanggapi pertanyaan, “Apa kabar?” tanpa melemparkan kursi.
Hingga Manifesto Orang-orang Telanjang edisi perdana rampung, playlist ini cukup sebagai teman duduk. Untuk sementara, itu cukup. Edisi kali ini segini saja dulu. Sisanya biar disusun oleh para musikolog, jurnalis musik, atau abang-abangan kancah musik avant-garde. Selesai. Tamat. Khatam sud.(*)
Editor Luthfi Saputra