Musik

Lagu-lagu untuk Tim Sepak Bolamu yang Hancur Lebur

Dea Anugrah, dalam esainya yang berjudul Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya, menulis begini: “Kita dapat bersandar pada banyak alasan dan berkata, tanpa berteriak, bahwa hidup ini layak dijalani: musik, sepak bola, humor, belas kasih, cinta. Dan dari pemahaman yang demikian, harapan bisa terus lahir.”

Itu baris yang memikat— kalimat yang membuat Dea dipuja oleh pembacanya sebagai penulis yang sanggup meniupkan harapan dengan mulut pesimistik. Tapi saya tak yakin Dea tahu bahwa, di suatu tempat, ada teman saya yang mencintai sepak bola dan Manchester United yang dibikin hampir kehilangan harapan setelah performa timnya morat-marit dari waktu ke waktu. Perasaan nyaris putus asa itu kemudian bertemu dengan ketekunan seorang ilmuwan yang salah tempat. Ia bereksperimen bagaimana menonton sepak bola yang benar dan percaya: posisi tubuh tertentu mampu memengaruhi hasil pertandingan.

Pernah suatu waktu, ia menonton sambil bergelantungan terbalik di sofa ruang keluarga. Ia pikir, dengan membalik tubuh, dunia juga bisa ikut balik. Mungkin hasil pertandingan bisa bengkok—tunduk pada niat. Tapi apa-apa yang terjadi sesudahnya dapat ditebak: muntah-muntah. Sama-sama mengenaskannya dengan timnya yang malah tersungkur di final oleh tim yang logonya berbentuk ayam sirkus. Sama-sama mengenaskannya dengan tokoh pengarang tersohor dalam novel Kiat Sukses Hancur Lebur karya Martin Suryajaya, yang muntah-muntah setelah mencoba membaca buku secara terbalik—betul-betul terbalik—dari belakang ke depan, dari ekor kata ke kepala.

Saya tentu sepakat bahwa hidup ini layak dijalani dengan komponen-komponen yang menggairahkan: musik, humor, belas kasih, cinta—dan tentu saja, sepak bola. Tapi khusus bagian terakhir, sebanyak apa pun ia membuat pecintanya merasa hidup itu patut dirayakan, sebanyak itu pula ia membuat hidup terasa seperti rangkaian penderitaan yang direpetisi tiap pekan. Ambil contoh teman saya tadi dan para fans Manchester United dalam beberapa tahun belakangan. Kekalahan demi kekalahan yang mereka telan jelas membuat lekuk palatum terasa seperti habis berkumur air comberan.

“Fans sepak bola yang baik adalah yang bisa dengan tabah menerima kekalahan tim favoritnya,” kata teman saya tersebut pasca muntah-muntah—dengan penuh ketabahan seperti Santiago dalam The Old Man and the Sea. Tapi tentu saja, tidak semua dari kita punya ketahanan batin selevel tokoh Hemingway. Beberapa dari kita—terutama yang tubuhnya tidak dirancang untuk posisi kepala di bawah—butuh pelampiasan yang lebih manusiawi. Musik, misalnya.

Berikut adalah rekomendasi lagu-lagu yang cocok untuk memberikan penghiburan ketika tim sepak bola favoritmu berjalan lurus menuju derita dan berkubang dalam tangisan-tangisan para fans. Dan kau mengiringi semua itu dengan sebatang samsu yang dihisap dan diembus dengan lagak romantik yang dibuat-buat:

Nasida Ria – “Bom Nuklir”

Saya sering membayangkan kiamat dengan fantasi suka-suka: seekor tapir raksasa keluar dari tanah, lalu belalainya menyapu-nyapu manusia seperti kita cuma seonggok bangkai. Atau dua monster Gigan ciptaan Jepang bertarung hebat di kota, sementara kita—manusia—terlempar seperti anai-anai yang salah masuk orbit. Entah kenapa, membayangkan kiamat dengan cara begini terasa lebih menyenangkan. Tapi Nasida Ria lebih dekat ke tanah; lebih duniawi dibanding saya. Ia menunjuk mainan para negara kurang kerjaan sebagai pertanda akhir zaman: bom nuklir.

Sekarang, bayangkan tim kesayanganmu kalah dengan cara paling menyakitkan—kena remontada, misalnya, atau punya kiper yang mendadak berubah jadi penyair: meliuk-liuk mencari makna, tapi gagal menepis bola. Lalu seolah belum cukup, sang pelatih berkata dengan wajah tak berdosa, “Kami bermain bagus.” Di saat-saat semacam itu, lagu ini adalah validasi dari langit.

Dengan irama orkes Melayu yang meliuk seperti asap di langit pasca-ledakan, lagu ini mengingatkan bahwa yang rapuh bukan cuma lini belakang tim favoritmu, tapi juga peradaban manusia. Dengarkan sambil duduk di lantai, rokok tinggal separuh, tatapan kosong ke kipas angin yang sudah ogah berputar. “Apa bedanya kalah 3–0 dengan kiamat?” tanyamu pelan. Dan Nasida Ria menjawab: “Bila bom nuklir diledakkan, akan musnah kehidupan di bumi…”

Begitulah kata Nasida Ria—dengan irama yang mengajak kita bergoyang di ambang kiamat.

The Strokes – “Ode to the Mets”

Dari judulnya saja, lagu ini sudah menjadikan The New York Mets—tim bisbol favorit Julian Casablancas—sebagai simbol dari sesuatu yang tetap dicintai meski secara berkala menghancurkan harapan dan struktur kejiwaan. Melalui denting gitar dan synthesizer yang terdengar seperti nada tunggu layanan pelanggan, Julian menyampaikan satu hal dengan jelas: ia sudah terlalu lelah untuk percaya bahwa “tahun depan tim ini akan juara.” Teler dibikin optimisme semu, sementara kenyataan tak bergerak maju.

Optimisme semacam itu tidak hanya tumbuh di tribun bisbol. Ia juga mekar dengan subur di dada fans sepak bola—terutama mereka yang timnya lebih sering ganti pelatih ketimbang menang derbi. “Musim depan kita bangkit,” katanya. Lalu yang bangkit malah rumor transfer pemain 35 tahun dan sponsor baru dari perusahaan tambang ilegal di Patagonia.

Gone now are the old times
Forgotten, time to hold on the railing
The Rubik’s cube isn’t solving for us

Baris lirik ini seharusnya dicetak di jersei ketiga timmu. Biar jujur. Karena musim ini bukan soal menang, tapi soal mencoba menyusun Rubik sambil mabuk dan tersedu-sedu di kamar mandi. Ode to the Mets adalah lagu untukmu yang tetap beli jersei terbaru, meski tahu minggu depan akan membanjiri linimasa dengan sumpah serapah.

Nien Lesmana/WSATCC – “Aksi Kucing”

Kau sudah sesumbar timmu akan menang telak—lalu ternyata mereka kalah mengenaskan. Maka, putarlah lagu ini. Berdansalah, seolah itu ritual cuci dosa. Irama pop-retro yang santai, lirik tentang kucing genit yang penuh siasat, dan aransemen yang terdengar seperti band pengiring parade era Orde Lama—semuanya berpadu jadi semacam pelarian yang lembut dan konyol.

“Aksi Kucing” bukan lagu sedih. Tapi cocok untuk mereka yang baru saja menyaksikan tim kesayangannya kalah karena gol bunuh diri yang tampaknya disponsori langsung oleh Hukum Murphy. Dan bukannya marah, kau malah melenggang ke kamar mandi, berdiri di depan cermin, dan berkata, “Saya tetap imut, walau klub saya tidak.”

Lagu ini punya kekuatan menyamarkan rasa malu. Gagal penalti? Ganti baju, nyalakan lagu ini, dan goyangkan bahu seperti kucing yang baru saja menjilat tangannya setelah jatuh dari lantai sepuluh. Bukan soal elegan—tapi bagaimana kau mengubah kehancuran menjadi gaya hidup. Dan tentu saja, ada sesuatu yang sangat jujur dalam iramanya: seolah-olah lagu ini tahu bahwa di dunia yang penuh tipu-cedera, satu-satunya respons waras adalah berpura-pura centil dan menjadi kucing.

Kendrick Lamar – “FEEL”

Ini adalah pilihan lagu yang tepat belaka ketika kau sudah terlalu sering diseret ke dasar klasemen—dan tak ada satu pun teman yang datang membawa kata-kata penghiburan. Sebaliknya, mereka muncul sebagai rombongan bermulut biawak—mengejek, mencibir, merayakan kekalahan tim favoritmu seolah-olah mereka baru saja memenangkan Nobel Perdamaian karena berhasil menebak skor akhir.

Dan kau? Tak mampu marah. Tak punya tenaga. Jadi ketika semua perasaan itu tak tertanggungkan, pasanglah headset, tekan play, dan masuklah ke dunia Kendrick Lamar yang penuh keluhan terjaga.

I feel like I’m losin’ my patience…
I feel like friends been overrated
Shit, I feel like ain’t nobody prayin’ for me

Dari bass-nya yang dalam seperti lubang resapan air mata, hingga beat yang berjalan lambat seperti proses pemulihan martabat setelah timmu kalah dari tim zona degradasi. Lagu ini cocok diputar sambil rebahan menyamping seperti tokoh tragedi Yunani, sambil membayangkan: mengikat teman-teman yang mengolok-olokmu pada penangkal petir di kala badai.

Frank Ocean – “White Ferrari”

Ini adalah lagu untuk kau yang akhirnya memutuskan untuk melepaskan. Bukan karena sudah tak cinta, tapi karena mencintai tim sendiri rasanya seperti terus-menerus menyiram tanaman plastik: penat, sia-sia, dan tetap harus pura-pura hijau di depan orang banyak.

Ketika tim yang kau bangga-banggakan terus-terusan kalah, bukan karena lawan lebih kuat, tapi karena semua back pass entah kenapa selalu mengarah ke bencana. Dan di titik ini, kau berhenti mencari alasan. Kau hanya ingin pulang dengan tenang, memutar lagu ini, dan menatap langit-langit sambil berpikir: “Mungkin hidup saya akan lebih damai kalau saya jadi fans badminton.”

Musiknya nyaris transparan—seperti perasaanmu setelah menyaksikan kekalahan keempat berturut-turut. Tidak ada drum, tidak ada ledakan emosi, hanya getaran kecil dari seseorang yang nyaris putus asa. Lirik-lirik Frank itu menghibur, berdarah, dan menangis. Sebagai seorang pencerita yang ulung, ia membawakan kepedihan dari tepi jurang dan menyuapkannya padamu.

I’m sure we’re taller in another dimension

Lagu ini cocok diputar sambil menghapus aplikasi statistik bola dari ponsel—sambil diam-diam tetap follow akun transfer pemain yang selalu selesai sampai tahap rumor. Karena, walau kau bilang sudah selesai, kau masih ingin tahu apakah kiper cadangan akan dijual ke klub Yunani. “White Ferrari” membuatmu diayun-ayunkan antara keinginan untuk lepas dari sengsara di satu sisi, dan di sisi lainnya masih terikat memori-memori perayaan juara timmu sewaktu kau belum sunat.

***

Jadi begitulah, Kawan. Kalau musim ini timmu lebih sering bikin ingin melempar televisi, ingatlah: selalu ada lagu untuk membuat hidup layak dijalani. Pasang lagu, turunkan ego, dan cuci jersei dengan air mata. Atau kalau sudah terlalu muak, ganti hobi. Cobalah chess boxing—setidaknya di sana, setelah salah langkah, kau bisa langsung meninju jidat lawan. Atau ikut toilet racing. Karena kadang, kekalahan paling menyakitkan pun bisa terasa lebih ringan…kalau kau alami sambil duduk di kloset bermotor.(*)

 

Editor Luthfi Saputra

Related posts
Musik

Italian Bed: Kemandirian di antara Julang Konsumerisme dan Abang-abangan Seniority Complex

Musik

Lagu-lagu yang Sebaiknya Kau Dengarkan di Mars

Musik

Sewindu Merindu, Banda Neira Tumbuh dan Menjadi

MusikReportase

Satu + Tiga Hari Patara Fest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *