Ulasan Buku

Tuanku Nan Renceh: Catatan untuk Irwan Setiawan

Buku Tuanku Nan Renceh (1780-1832) karya Irwan Setiawan adalah salah satu buku cacat sejarah, dari beberapa buku sejarah yang pernah saya baca. Buku ini sendiri berisi tiga bab, tapi hanya di bab kedua ia menerangkan sejarah Tuanku Nan Renceh. Bab-bab lainnya hanya sampiran belaka. Malah di bab penutup isinya ceramah semua.

Pada bab awal Irwan bercerita soal Kamang khas proposal skripsi buruk buatan mahasiswa tahun akhir. Di bab awal ini saya tersentuh ketika ia menyebut asal mula kata Kamang dinukil dari kata kama’ang dan Magek dari kama gaek(hal. 3).

Astagfirullah!

Saya jelas menolak betul pengidentifikasian dangkal ciri khas orang-orang pemalas dunia ketiga, meski Firza M.Pd (dosen Universitas Negeri Padang) menyebut cara Irwan Setiawan menguraikan sejarah penamaan nagari sangat bagus dalam acara bedah bukunya yang ditaja Kelas Menulis Elipsis.

Saya justru menilai Irwan Setiawan sebagai orang yang benar-benar sembarangan dalam meneliti asal mula penamaan nagari. Asal-asalan saja. Saya membayangkan jika seandainya Tuanku Nan Renceh lahir di Kuamang Kuning, sebuah desa di Jambi dan Irwan menelitinya, mungkin saja ia bakal menyebut nama desa itu berasal dari kata ikua amak ang kuniang.

Saya pikir Kamang bukan sebutan yang asing di alam Melayu meskipun punya perbedaan dialek. Di Malaysia ada wilayah Teluk Kemang di Port Dickson atau Kampong Sungai Kemang di Johor. Di Indonesia kita mengenal Kemang Raya dengan segala kemegahannya. Bahkan di Sembahe, Sumatera Utara sana, ada sebuah situ cagar budaya yang disebut Gua Kemang dan dipercaya arkeolog sebagai jejak peradaban manusia kerdil.

Begitupula dengan Magek, saya menduga kata ini barangkali berasal dari megat. Di Alam Melayu istilah megat selalu ditujukan pada bangsawan tingkat tinggi atau orang suci, sebagai contoh raja kedua Malaka, Megat Iskandarsyah atau Megat Sri Rama, tokoh yang menjadi simbol kepahlawanan tertinggi orang Bintan.

Bahkan di Bali ada naskah kuno Kidung Megat Kung yang berisi nasihat-nasihat dan puja-puji, sementara di Lombok ada ajian perang yang dikategorikan sebagai ilmu tingkat tinggi yang dinamai megat-male.

Sampai tulisan ini dibuat, saya pun belum tahu arti kata tersebut. Tapi saya menduga kedua kata ini berasal dari bahasa Melayu Purba. Tidak serupa yang diidentifikasi secara sembrono oleh Irwan Setiawan.

Tapi mau bagaimana lagi? Cara pikiran Irwan Setiawan bekerja memang sudah bermasalah sejak sampul buku. Ia menamai bukunya dengan judul Menyusun Puzzle  Tuanku Nan Renceh, tapi foto yang ia gunakan adalah lukisan Imam Bonjol. Belum lagi EYD penulisannya yang kacau balau.

Namun sebagai orang yang punya citra baik hati, lemah lembut dan santun, saya upayakan juga membaca buku tak layak terbit ini dengan penuh ketabahan.

Pada bagian kedua buku ini (hal. 32-124) Menyusun Puzzle Tuanku Nan Renceh, Irwan seakan-akan berniat untuk menyusun sejarah Tuanku Nan Renceh yang berserakan di sana-sini, tapi setelah membacanya, saya tidak melihat ada puzzle yang disusun Irwan.

Saya pikir, kerjanya malah ibarat beruk baru pandai melompat. Sebentar-bentar lompat ke kisah Tuanku Nan Renceh, lompat ke kisah Haji Miskin, lompat ke Arab, lompat ke Imam Bonjol. Tidak komprehensif sama sekali.

Meski Tuanku Nan Renceh memulai jihadnya dengan cara sadis: membunuh bibinya sendiri yang tidak mau berhenti makan sirih. Sirih dianggap kebiasaan yang tidak sesuai dengan Islam. Mayatnya tidak dikuburkan tapi dibuang ke hutan karena dianggap kafir (Muhamad Radjab, Perang Paderi di Sumatera Barat (1803-1838). Irwan malah menyebut keputusan Tuanku Nan Renceh membunuh bibinya sendiri itu merupakan suatu jihad yang barangkali bersumber pada perang Badar di mana Abu Ubaidah membunuh ayahnya sendiri.

Irwan dengan mantap beberapa kali di buku ini berpidato agar kita para pembaca harus mengerti jiwa zaman, bla-bla-bla-bla, tapi ia membandingkan seorang penyirih dengan prajurit perang yang memburu kepala Abu Ubaidah?

Prasangka buruk saya, sepertinya Irwan tidak mencontoh sikap Nabi Muhammad yang memaafkan Nu’aiman meski kerjanya mabuk setiap hari, menjahili rasul, bersyair. Bukan membunuh Nu’aiman. Bahkan orang Yahudi dan Nasrani di Yastrib justru diberi perlindungan hukum oleh Muhammad. Kurang jelas apalagi kafirnya itu? Atau memang Irwan tidak meneladani rasul tapi orang lain? Entahlah.

Yang paling kacaunya lagi, pada bagian Menyusun Puzzle Tuanku Nan Renceh  Irwan Setiawan menyebut bahwa ada dua perbedaan Wahabi di dunia Islam. Pertama Abdul Wahhab bin Rustum, khawarij, mengkafirkan kaum muslim yang melakukan dosa, memberontak pada pemerintahan yang dipimpin seorang muslim. Kedua Muhammad bin Abdul Wahhab, ahlussunnah wal jamaah, segala dosa diampuni Allah sebelum nyawa sampai kerongkongan.

Dengan ketololan akut, setelah menjelaskan dua perbedaan wahabi (hal. 57), Irwan Setiawan justru memasukkan Tuanku Nan Renceh yang suka membunuh, tak kenal musyawarah dan mengkafirkan orang itu sebagai golongan Muhammad bin Abdul Wahhab, dan Irwan berpidato dalam bukunya, “Tuanku Nan Renceh telah berbuat demi nama Islam dengan ijtihad dan ikhtiar. Jangan runtuh dan lemahkan perjuangannya dengan faham sekuler…” (hal. 60).

Pada bagian ini juga Irwan Setiawan menyebut kehadiran Tuanku Nan Renceh diterima dengan baik oleh orang Kamang. Tapi Fakih Saghir sendiri—teman selapik-seketiduran Tuanku Nan Renceh—dalam Surat Keterangan Syekh Jalaluddin (SKSJ) yang ditulis sebelum tahun 1829 dan dihimpun Ulrich Kratz dan Adriyetti Amir (Kuala Lumpur, 2002), pada halaman 37 ia menggambarkan aksi bengis pasukan Tuanku Nan Renceh ketika menyerang Tilatang:

Maka sampailah habis Tilatang dan banyaklah orang berpindah; dan sukar menghinggakan ribu laksa rampasan, dan orang terbunuh dan tertawan lalu kepada terjual, dan dijadikannya gundi’nya.

Pada halaman yang sama Fakih Sagir menyebut pengikut Tuanku Nan Renceh dari Salo, Magek, dan Kota Barumerupakan kelompok paling ganas membantai sehingga orang-orang mengandaikan mereka dengan sebutan “Kerbau yang tiga kandang” lantaran sifat mereka menyerupai hewan.

Irwan memang menyebut bahwa Tuanku Nan Tuo tidak menyukai jalan kekerasan yang ditempuh oleh Tuanku Nan Renceh dengan cara menasehatinya. Tapi Irwan tidak menjelaskan bahwa Tuanku Nan Renceh naik darah mendengar penolakan Tuanku Nan Tuo, hanya menyebut Tuanku Nan Renceh mencari patron baru dan Tuanku Nan Tuo memilih jalan yang lain dengan muridnya.[1]

Padahal Fakih Sagir dalam SKSJ menyebut Tuanku Nan Renceh menghina ulama kharismatik yang dituakan di darek itu dengan menyebutnya sebagai “rahib tua” dan Fakih Saghir, bekas teman seperguruannya digelarinya “Raja Kafir”. Tuanku Nan Renceh pun beberapa kali berupaya membunuh Tuanku Nan Tuo, karena berani menentang jalan jihadnya. Namun Fakih Sagir dalam SKSJ menyebut upaya itu selalu gagal.[2]

Setelah menghabiskan waktu membaca buku ini, saya sampai pada kesimpulan bahwa tulisan Irwan Setiawan banyak sekali yang sekena perut, tidak bersumber dan jujur pada bahan bacaan. Ia seperti memotong-motong bagian yang ia senangi untuk dicocoklogikan dengan Tuanku Nan Renceh. Ia hanya mencomot teks-teks tertentu dari SKSJ yang sesuai dengan niatnya untuk memoles citra Tuanku Nan Renceh.

Maaf sebelumnya, saya memang tidak bisa memuji buku Tuanku Nan Renceh karya Irwan Setiawan ini, sebagaimana Zulqayyim memuji buku ini sebagai buku bagus dan menarik. Bahkan beberapa kali terlontar dari mulut Zulqayyim bahwa Irwan adalah orang yang benar-benar cerdas dalam acara bedah bukunya yang ditaja Majalah Elipsis.

Saya tidak punya masalah dengan Zulqayyim, tapi saya menganggap pujiannya sebagai basa-basi bahkan omong-kosong belaka. Saya sendiri menyebut buku ini sebagai buku buruk dan menyarankan benar dibaca oleh orang yang ragu-ragu untuk bunuh diri.

Saran penutup saya, berkaitan tentang informasi yang termaktub dalam biodatanya yang dipampang di halaman terakhir buku ini, Irwan menyebut bahwa ia sedang menyiapkan buku terbaru. Untuk itu saya menyarankan pada Irwan agar berhenti melanjutkan pengerjaan bukunya itu. Sebab kalau dipaksakan, saya takut ada sesuatu yang lebih merusak generasi muda selain narkotika nantinya. Kalau mau tetap menulis juga. Ya tak masalah. Toh, narkotika terus diproduksi walau selebaran-selebaran tanda bahaya telah dipajang negara di tiap sudut kota. (*)

[1] Lihat SKSJ, hal. 87.

[2] Lihat SKSJ, hal. 41.

About author

Pemerhati sejarah
Related posts
Ulasan Buku

Dua Buku dari Talang Mamak

Ulasan Buku

Pekanbaru, dari Hilir ke Hulu

Ulasan Buku

Djaman Kemadjoean dan Penulisan Sejarah Kota: Ulasan Buku Terbaru Deddy Arsya

Ulasan Buku

Firdaus, Tragic Hero dalam Novel Perempuan di Titik Nol

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *