Ulasan Buku

Sejarah Kata-kata Ganjil di Minangkabau

Kolonialisme yang mengcengkram daerah yang dihuni oleh sukubangsa Minangkabau pada abad-abad yang lalu, membawa pengaruh dalam berbagai lini kehidupan. Pada masa itu, mitos superioritas Barat yang disebarkan Belanda, mengakibatkan sebagian orang Minang cendrung merasa bangga jika mengikuti kebiasaan dan pola kehidupan bangsa barat seperti yang digambarkan M Radjab dalam memoarnya Semasa Ketjil di Kampung. Hal tersebut terjadi juga dalam bidang bahasa. Interaksi yang terjadi dengan bangsa Belanda dan bangsa barat lainnya menyebabkan munculnya berbagai kosakata baru dalam bahasa Minang.

Dalam konteks penggunaan bahasa, orang Minang tidak meniru begitu saja semua yang mereka dapatkan dari bangsa lain. Karena faktor-faktor sejarah tertentu, mereka melakukan berbagai macam modifikasi terhadap berbagai unsur serapan dari bahasa asing. Dengan kata lain, mereka tidak sepenuhnya pasif di hadapan perubahan zaman. Inilah yang coba diketengahkan oleh Gusti Asnan dalam bukunya Sejarah Minangkabau, Loanwords, dan Kreativitas Berbahasa Urang Awak. Buku ini menghimpun berbabagai kosakata yang terbentuk oleh sejarah, baik yang kini masih hidup di tengah masyarakat Minangkabau mau pun yang sudah hampir ‘mati’. Buku ini merupakan upaya untuk memahami akar sejarah dan kreativitas orang Minang dalam berbahasa, khususnya dalam memodifikasi kosakata asing menjadi kata serapan, seperti tertulis pada bagian pengantar buku ini, yang menjelaskan bahwa setiap kata memiliki sejarah dan asbabun nuzul-nya masing-masing (hal, ix)

Sebagian besar kata yang diulas dalam buku ini mungkin terdengar asing di telinga kita karena kata-kata tersebut sudah jarang dituturkan oleh orang Minang hari ini. Mungkin hanya nenek atau kakek kita yang tahu perihal dari berbagai kata tersebut. Dan karena telah dimodifikasi sedemikian rupa, akhirnya kata-kata tersebut terdengar ganjil di telinga kita hari ini, seperti kata cingkariang. Cingkariang berasal dari bahasa Inggris yang terdiri dari dua kata yaitu change dan a ring. Sehingga, bila digabung artinya akan berubah menjadi bertukar cincin yang dalam budaya barat identik dengan proses lamaran. Kata tersebut dipelesetkan menjadi cingkariang sesuai dengan dialek Urang Awak yang maknanya merujuk pada kegiatan berkasih sayang atau berpacaran (hal, 41).

Beberapa kata ‘ganjil’ lainya juga hadir dalam masyarakat Minang sebagai pengaruh dari kegiatan ekonomi, yaitu perdagangan. Karena perdaganganlah hubungan antara daerah darek dan pasisie menjadi lebih intens seperti pada jalur Lembah Anai yang berada di dekat Padang Panjang. Di sekitar daerah Lembah Anai terdapat sebuah tempat yang digunakan sebagai tempat pengecekan barang-barang yang akan dibawa dari Darek menuju Pasisie ataupun sebaliknya.

Kata ganjil seperti Cikuih, muncul dalam konteks ini. Berasal dari bahasa Inggris, yaitu kata check dan house yang bermakna rumah pengecekan atau rumah pemeriksaan. Kata ini lahir dari aktivitas yang dilakukan di rumah pengecekan tadi. Para petugas akan memeriksa barang bawaan para pedagang dengan cara mengetuk-ngetuk bagian tertentu pada peti atau bakul barang bawaan tersebut dengan jari telunjuk atau dengan palu kecil. Kata cikuih kemudian lazim digunakan untuk menggambarkan tindakan seseorang menjitak kepala orang lain menggunakan tiga jari yang dilipat (hal, 40).

Selain itu, ada juga kata yang dulu populer, namun kini nyaris mati karena ditemukannya teknologi-teknologi baru. Seperti kacio yang berasal dari bahas Belanda yaitu kasje yang berarti tempat penyimpanan uang yang berukuran kecil. Kata ini berasal dari kata kas, yang berarti tempat penyimpanan uang dengan tambahan je yang berarti kecil. memiliki kemiripan dengan celengan, yang memiliki fungsi sebagai tempat menyimpan uang. Kacio pada dasarnya sama dengan celengan. Meskipun memiliki kesamaan, terdapat perbedaan antara kacio dan celengan dari segi bentuk. Celeng memiliki bentuk menyerupai babi sementara kacio memiliki bentuk seperti ayam yang diberi lubang. Di Minang kacio lebih popoler dibanding celeng, karena orang Minang yang identik dengan kultur Islam yang sangat kuat kurang menerima tempat penyimpan uang berbentuk celeng (babi). Hari ini kara kacio praktis tidak dikenali lagi secara umum setelah semakin beralihnya masyarakat Minang pada tabungan modern dalam sistem perbank-an (64-65).

Beberapa kata ‘ganjil’ juga muncul dalam masyarakat Minangkabau beriringan dengan munculnya teknologi modern. Sebelum kedatangan bangsa Belanda, teknologi yang digunakan masih dalam bentuk yang sederhana dan belum mengalami mekanisasi. Kedatangan bangsa Belanda ke Minangkabau membawa semangat dan spirit modernisme yang berkembang di Eropa. Kolonialisasi yang dilakukan oleh bangsa Belanda membawa pengaruh di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini dibuktikan dengan adanya kata-kata yang berakaitan dengan alat dan kegiatan teknis, seperti dario, cingkunek, dan aterek. Berbagai kata tersebut diadopsi karena belum terdapat dalam perbendaharaan bahasa Minang.

Dario, misalnya,b dari bahasa Belanda dan bahasa Inggris, yakni dari kata radio yang berarti siaran (pengiriman) suara atau bunyi melalui udara. Kata ini juga dipahami sebagai alat yang bisa menerima siara (pengiriman) suara atau bunyi tersebut. Oleh Urang Awak kata radio ini dilafalkan menjadi dario. Dario adalah sebuah revolusi besar dalam sistem komunikasi (hal, 44). Atau aterek—kata yang lazim dipakai untuk menggambarkan gerak mundur suatu objek, terutama mobil. Kata ini muncul beriringan dengan munculnya mobil sebagai transportasi modern di Padang. Berasal dari bahasa Belanda uittrekken yang artinnya menarik keluar atau menarik lepas yang pada masa itu mengacu pada gerak mundur sebuah mobil (hal, 12). Cingkunek, kata yang berasal dari bahasa Belanda dingkleine yang berarti benda-benda kecil. Kata ini kemudian diadopsi untuk menujukkan benda-benda kecil namun penting yang terdapat pada berbagai mesin, benda kecil ini terutama tombol (42).

Kalau saja kosakata yang disajikan dalam buku ini dikelompokkan berdasarkan bidang yang berkaitan dengan makna katanya, saya kira akan lebih memudahkan pembaca dalam memahami konteks lahirnya suatu kata. Mislanya, kata-kata yang berkaitan dengan bidang ekonomi dikelompokkan menjadi satu kategori. Hal tersebut memudahkan pembaca dalam memahami berbagai kosakata tersebut sesuai dengan konteks dan bidang penggunaannya. Selain itu, juga memudahkan pembaca non-Minang dalam memahami kata tersebut dan melihat asosiasinya dengan kata yang lain dalam bidang yang sama.

Meskipun demikian, buku ini merupakan buku yang renyah berkat gaya naratif yang dipilih penulis untuk menjelaskan asal-usul dari berbagai kosakata tersebut. Gaya naratif tersebut ditopang dengan pemilihan diksi yang relatif mudah dipahami oleh pembaca pemula laiknya saya. Pemberian contoh kasus pada setiap kata memudahkan kita dalam mencerna dan memaknai setiap kata. Sebagai tambahan, jika kata tersebut memiliki asal-usul yang beda, penulis tetap menyajikan narasi alternatif dari kata yang bersangkutan.

Terakhir, saya merekomendasikan buku ini sebagai bahan rujukan bagi mereka yang berminat dalam mendalami bahasa Minang, terkhususnya generasi muda. Saya sendiri sebagai generasi muda juga merasakan perasaan heran ketika membaca buku ini pertama kali. Kata-kata yang selama ini biasa kita tuturkan ternyata berasal dari suatu kondisi kesejarahan tersendiri serta kreativitas pendahulu kita dalam mengolah unsur-unsur yang berasal dari luar. Selain itu, dengan membaca buku ini kita sekaligus akan ikut memperpajang umur berbagai kosakata ganjil yang nyaris mati yang sejatinya adalah warisan budaya para pendahulu. (*)

Judul : Sejarah Minangkabau, Loanwords, dan Kreativitas Berbahasa Urang Awak
Penulis : Gusti Asnan
Penerbit : Ombak (Yogyakarta)
Tahun : 2020
ISBN : 978-602-258-571-8
Halaman : xxii+210

About author

Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Andalas
Related posts
Ulasan Buku

Tentang Tafsir: Mendiskusikan Beberapa Mitem dalam Novel “Segala yang Diisap Langit”

Ulasan Buku

Menatap Politik Kesukuan: Pelajaran dalam Pengambilan Kebijakan

Ulasan Buku

Kriminalisasi Ganja: Antara Manfaat Dan Mudarat

Ulasan Buku

Etika Dagang Orang Kaya Besar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *