Artikel

Ruang Pameran untuk Sastra: Menerabas Batas Disiplin, Menjaring Sampai Jauh

Sejak jauh-jauh hari, saya telah mendengar rencana penyelenggaraan pameran terkait biografi dan kekaryaan S. Rukiah, kuratorial Jejaring, Rimpang dalam Pekan Kebudayaan Nasional 2023. Dhianita Kusuma Pertiwi, salah satu kurator, begitu antusias merencanakan pameran, diskusi demi diskusi dengan kurator lain (Bagus Purwoadi Arianto), interaksi dengan Jurnal Karbon, proses penelitian dan pembacaan terhadap penelitian terdahulu, termasuk bagaimana biografi dan kekaryaan S. Rukiah akan direspon ke dalam bentuk lain. Saya amati itu semua dalam beberapa kesempatan.

Saya membayangkan tentu tidak mudah ‘membicarakan’ S. Rukiah di dalam ruang pameran. Meskipun beberapa tahun belakangan biografi dan kekaryaan S. Rukiah dibicarakan kembali oleh berbagai forum dan studi. Tetapi proses pembredelan karyanya, penangkapan, pelarangan menulis-menerbitkan, dan berbagai praktik kekuasaan tentu telah mengubah cara pandang publik terhadap S. Rukiah. Lebih jauh lagi, mendekati enam dekade dari praktik kekuasaan itu, mungkin telah membuat publik (sastra khususnya) lupa bahkan sudah tidak mengenal siapa S. Rukiah?

Pada bagian ini, saya memahami bahwa ada keinginan untuk memamerkan kembali S. Rukiah tidak hanya biografis, sebab pokok ini cenderung bias. Dari pembicaraan dengan Dhianita, saya melihat ada keinginan untuk melakukan penjelajahan lebih jauh ke dalam materi karya S. Rukiah, dan dengan begitu laku kuratorial termasuk respons para seniman tentu akan lebih luwes.

 Pameran terkait S. Rukiah akhirnya terselenggara 14 Oktober — 4 November 2023 di RUBANAH Underground Hub, Jakarta, dengan judul “Kejatuhan dan Hati: Denyut Romansa di tengah Gejolak Revolusi”. Saya hadir waktu pembukaan, sambil ‘curi-curi lihat’ Eyi Lesar melakukan performans merespon tokoh Susi dalam novel S. Rukiah berjudul Kejatuhan Hati. Saya berkeliling ruang pameran dan cukup kagum melihat bagaimana pameran ini menghadirkan linimasa S. Rukiah, menghubungkan biografi, kekaryaan, sekaligus dengan proses perjalanan sejarah Indonesia. Di luar itu semua, pameran tersebut telah membuat saya membawa beberapa pertanyaan, dan pertanyaan tersebut terus bergerak dalam kepala saya.

Di mana seharusnya teks sastra ‘berakhir’ (buku atau medium lain)? Apakah jika teks sastra direspon, dialih-wahanakan, akan dipandang sebagai medium baru memperkenalkan sastra? Apakah identitas pameran hanya milik disiplin seni rupa? Apakah pameran dengan menghadirkan sebaran teks-teks tertulis dapat dikatakan proses memperkenalkan karya?

Catatan ini, tentu bertolak dari jauh, untuk kemudian mendekat pada apa yang telah diupayakan dalam pameran “Kejatuhan dan Hati: Denyut Romansa di tengah Gejolak Revolusi”. Dari pameran tersebut, saya berupaya untuk menengok kembali upaya-upaya penulis, seniman lintas disiplin, manajerial seni, bahkan penerbit buku untuk menghadirkan dan membawa karya tulis (sastra) ke dalam ruang pameran.

Dalam artian, sebuah karya sastra yang pada dasarnya ditujukan supaya dapat dinikmati secara intim di ruang personal, kemudian dibawa ke ruang pameran untuk dinikmati secara berbeda. Sebuah karya yang pada awalnya hanya dapat dipercakapkan ‘dalam kepala’ pembaca melalui medium buku, lembaran koran, dst. S. Rukiah dengan pengalaman pahitnya sebagai penulis tentu berbeda kasus. Namun, pembacaan ini adalah sebuah upaya untuk melihat bagaimana ruang baru diberikan untuk karya sastra, dan bagaimana sebuah proses kuratorial dan cara kerja seniman kemudian dapat menggali lebih jauh biografi dan karya seorang penulis.

Memberi Ruang Baru

Saya ingin menghadirkan terlebih dahulu sebuah ilustrasi, sebagai kemungkinan untuk jawaban pertama: di mana sebuah teks sastra seharusnya berakhir? Sebuah ilustrasi tentang puisi “Padamu Jua” karya Amir Hamzah, yang sebaris kalimat dalam puisi tersebut entah sudah berapa kali direproduksi oleh penulis untuk dipakai kedalam teks lain. Termasuk digunakan oleh seniman dari berbagai disiplin, dengan pemaknaan yang bisa jadi masih terikat pada puisi, atau sudah lepas sama sekali. Semisal dalam beberapa artikel dapat kita temui “bertukar tangkap dengan lepas” digunakan sebebas-bebasnya untuk merepresentasikan berbagai pemaknaan bahkan terkadang diparafrase. Atau kita bisa menengok kembali baris “bertukar tangkap dengan lepas” digunakan oleh Teater Garasi sebagai tajuk ulang tahun ke-20 kelompok teater tersebut (2014). Tajuk itu juga digunakan sebagai judul buku yang berisi ulasan-ulasan proses perjalanan Teater Garasi selama dua dekade: Bertukar Tangkap dengan Lepas: “Sesilangan dan Lintasan 20 Tahun Teater Garasi dalam Esai”.

Penggunaan sebaris kalimat dari puisi Amir Hamzah mungkin akan terus berlangsung dan tak sudah-sudah direproduksi selagi teks tersebut teringat dan dirasa ‘mengena’ untuk dijadikan sumber penciptaan. Terbaru, kita dapat menonton sekaligus mendengar lagu berjudul “Padamu Jua” di laman Youtube dinyanyikan Eross Ode (dipublikasikan 10 Juli 2022). Lagu yang disebut mengutip puisi Amir Hamzah itu, bahkan tidak menggunakan dua bait terakhir dari tujuh bait yang terdapat dalam puisi. Dari ilustrasi puisi Padamu Jua, saya mengira bahwa teks tertulis mungkin tidak akan dapat dibatasi medium akhirnya. Ia bisa dihadirkan, dikutip, disulih, dan diberbagai-macamkan.

Apakah ketika karya bersalin-rupa, beralih-wahana, ia dipandang sebagai medium baru memperkenalkan sastra? Berangkat dari ilustrasi puisi Amir Hamzah di atas, bahwa upaya menggarap barangkali tidak dalam rangka memperkenalkan Amir Hamzah dalam dunia kesusastraan, atau tidak dalam rangka memperkenalkan kembali puisi Padamu Jua. 

Proses menghadirkan medium baru bagi karya sastra atau dalam rangka memperkenalkan karya sastra tentu kerap dilakukan. Namun patut dicatat, sebagian dari proses tersebut tidak sepenuhnya dalam rangka memperkenalkan teks utama–baik penulis atau karyanya. Kita dapat melihat bagaimana kolaborasi M. Aan Mansyur dengan ilustrator Muhammad Taufiq (Emte) menghadirkan buku puisi Melihat Api Bekerja (Gramedia). Proses kolaborasi, meskipun pada dasarnya telah rampung dalam bentuk buku, kemudian menjadi titik tolak untuk menggarap pameran di Edwin Gallery, Jakarta Selatan, 15–26 April 2015.

Baik proses penyatuan ilustrasi dalam buku, atau proses penghadiran ilustrasi dalam pameran, adalah proses penyatuan dua tafsir berbeda dari sebuah gejala penghadiran puisi. Ilustrasi Emte berada pada lapis kedua proses tafsir tersebut, proses yang berlangsung setelah M. Aan Mansyur tuntas menuliskan puisi. Pameran pun menjadi sebuah ruang memungkinkan untuk mendorong ketertarikan orang-orang untuk melihat kembali puisi M. Aan Mansyur sebagai teks utama penghadiran ilustrasi Emte. Kemungkinan, pembacaan ini ditangkap oleh penerbit, dan pameran menjadi salah satu jalan lain untuk lebih memperkenalkan lagi puisi-puisi M. Aan Mansyur, khususnya buku Melihat Api Bekerja pada pembaca berbeda.

Sedikit berbeda dengan proses pameran Melihat Api Bekerja, proses penghadiran buku Manuskrip Sajak Sapardi Djoko Damono (Gramedia, 2017) terlebih dahulu melewati proses pameran. Kumpulan tulisan tangan penyair tersebut untuk kali pertama dipamerkan kepada publik di Rumata’ Artspace, Makassar, pada 16–23 Mei 2017, dan beberapa waktu kemudian digarap menjadi buku. Dalam penggarapan buku, visualisasi turut mendominasi, dalam artian teks puisi hanyalah timpalan, setelah kekuatan visualisasi arsip dengan goresan pulpen di atas kertas buku bergaris. Visualisasi tersebut mungkin akan mendorong orang (pembaca) untuk melihat bagaimana rupa tulisan dan arsip puisi Sapardi Djoko Damono.

Dorongan menghadirkan sastra ke dalam medium lain untuk memperkenalkan sastra ke khalayak lebih luas juga dapat kita lihat salah satunya melalui album Komposisi Delapan Cinta garapan Nyak Ina Raseuki (Ubiet) dan Dian HP. Dalam album tersebut terdapat depan puisi yang dilagukan. Bahkan pada saat album ini rilis, masing-masing lagu tersebut pernah disediakan dalam bentuk nada sambung pribadi (NSP), dijual dalam bentuk compact disk, dan tersedia di beberapa kanal musik.

Menerabas Batas Disiplin

Melihat ilustrasi mengenai reproduksi hingga pameran teks sastra kita dapat mengira bahwa upaya untuk menghadirkan teks tertulis ke dalam ruang pameran sudah banyak dilakukan dengan berbagai model. Salah satunya dengan menyandingkan tulisan dengan ilustrasi. Jauh sebelum ini, proses pembatasan kerja-kerja disiplin seni barangkali juga telah membatasi cara pandang banyak orang, bahwa ruang pameran adalah milik disiplin seni rupa saja. Tapi belakangan kesadaran akan pentingya proses kerja lintas disiplin telah memberi keleluasaan bagi pekerja seni, termasuk penulis dan institusi penerbitan, untuk berani melakukan kerja-kerja kolaborasi dalam bentuk pameran.

Para penulis sejauh ini barangkali mengenal ruang pameran untuk sebuah tulisan, atau buku secara utuh, dalam bentuk book fair. Atau ruang-ruang lain yang barangkali tanpa kita sadari sudah menjadi tempat pameran tulisan (atau buku) serupa adalah toko buku. Di toko buku, dijejer sampul-sampul buku, bahkan dihadirkan kutipan penting atau ‘mengena’ dari isi buku.

Dalam konsep pameran (rupa atau seni media baru) memang terdapat keberbedaan dengan konsep penghadiran teks sastra berupa buku atau tulisan lain. Jika buku menghadapkan kita pada teks tertulis, pameran lebih mengedepankan visualisasi, mulai dari visualisasi teks buku (tipografi), ilustrasi, atau respon terhadap teks itu sendiri. Kita dapat mengambil contoh salah satu pameran yang terasa asing bagi kita, tempat karya sastra menyatu dengan karya-karya seni lain dalam sebuah ruangan. Seperti pameran yang diselenggarakan oleh Christie’s London (6 Juni-14 Juli 2022), melalui tajuk pameran The Art of Literature, dengan menghadirkan lintasan karya sastra modern, manuskrip iluminasi abad pertengahan, puisi epik kuno, hingga lukisan kontemporer — saya melihat melalui virtual tour di: Art of Literature.

Pameran ini mengungkapkan bahwa sejarah seni dan sastra saling terikat kuat dan saling berjalin-berkelindan. Dalam pameran ini dieksplorasi dan ditawarkan sebuah wawasan menarik mengenai karya-karya seniman dan penulis-penulis mulai dari Marlene Dumas, William Shakespeare, Peter Paul Rubens, Lucian Freud, Joan Mitchell, James Joyce, Pablo Picasso dan Peter Doig. Christie’s mengungkapkan bahwa dari barang antik, lukisan Guru Tua hingga perhiasan dan seni kontemporer, karya-karya dalam pameran ini memperlihatkan dan menggarisbawahi keterkaitan antara pelukis dan penyair, pematung dan novelis, dramawan dan pengrajin yang telah ada selama ribuan tahun.

Pada pameran ini kita dapat melihat manuskrip fabel Aesop terpajang bersebelahan dengan lukisan Michaël Borremans, lukisan Marlene Dumas bersebelahan dengan karya patung Auguste Rodin, sampai terbitan buku puisi The Waste Land (Boni & Liveright, 1922) karya T.S. Eliot dipajang bersebelahan dengan lukisan seri Radical Writing: Poème quotidien karya Irma Blank dan fragmen papirus Mesir dari Book of The Dead. Melalui pameran ini dapat diindikasikan bahwa kelindan karya sastra dengan karya seni lain bahkan jauh lebih tua dan dimungkinan untuk ditarik ke dalam sebuah pameran.

Menjaring Sampai Jauh

Beberapa contoh pameran terkait dengan teks sastra memungkinan kita untuk tidak hanya melihat pameran sebagai sebuah upaya memperkenalkan karya sastra tapi bisa menjaring sebaran narasi sejarah. Selama ini, publik memandang pameran teks melulu berbentuk pameran ‘arsip beku’. Padahal pemaknaan dan pola penghadirannya hari ini sudah jauh berbeda.

Salah satu contoh, pameran ilustrasi cerpen yang diselenggarakan oleh Kompas untuk merayakan terbitan buku cerpen pilihan Kompas — cerpen dan ilustrasi yang terbit setiap Minggu. Pameran tersebut selain untuk mempromosikan buku cerpen yang akan dipasarkan, juga untuk mengukuhkan konsistensi media tersebut (misalnya) dalam menyediakan ruang untuk sastra berdampingan dengan rupa — terdapat dua karya seni sekaligus yang direpresentasikan dalam pameran. Selain itu pameran-pameran arsip yang sejauh ini diselenggarakan sudah meluas, tidak melulu arsip kertas berisi tulisan, atau berisi gambar: ia sudah melebar ke bentuk-bentuk yang lain.

Untuk itulah, sebuah pameran teks sastra, atau pameran penunjang tidak mesti dipahami sebagai sarana untuk mempromosikan sebuah karya sastra saja. Lebih jauh lagi, ia dapat merepresentasikan berbagai hal terkait dengan dunia di sekitar penciptaan teks, termasuk biografi penulis. Hal inilah yang dilakukan oleh pameran “Kejatuhan dan Hati: Denyut Romansa di tengah Gejolak Revolusi.”

Hal tersebut dapat kita lihat dari bagaimana pameran mengenai S. Rukiah menghadirkan lini masa bertajuk Jejak Merah S. Rukiah, yang ditarik dari kelahiran sastrawan perempuan tersebut sampai pada periode 2000-an, ketika karya-karya S. Rukiah mulai dikaji dan respon kembali ke berbagai bentuk lain oleh beberapa seniman. Lini masa pameran itu dibagi ke dalam empat sub-bagian, masing-masing “Terbitnya mentari merah (1926–1946)”, “Merekah merah (1946–1965), “Merah tersimpan dalam laci (1965–1977), dan “Menyalakan kembali pendar merah (1977-sekarang). Bagian terbaik dan berani, menurut pandangan saya, bagaimana pada tersebut menghubungkan gejala-gejala lain, yang secara tidak langsung berhubungan dengan cara pandang S. Rukiah terhadap perempuan dan gerakan kemerdekaan Republik Indonesia–dengan cara menempatkan gejala tidak langsung pada bagian atas lini masa dan bagian yang langsung terhubung di bagian bawah.

Misalkan pada sub-bagian “Terbitnya mentari merah (1926–1946)”, pada satu titik tahun 1928 pada lini masa turut dihadirkan narasi singkat tentang Kongres Perempuan 1 di Yogyakarta yang dihadiri oleh 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Padahal, pada tahun tersebut S. Rukiah baru berusia satu tahun, namun agaknya kurator ingin menarik gejala di luar biografi dan kekaryaan S. Rukiah, yang secara tak langsung terhubung dalam sebuah fenomena terkait dengan gerakan perempuan di Indonesia. Pada titik lain, misalnya pada sub-bagian “Merekah merah (1946–1965), pada titik tahun 1948 lini masa tersebut menempatkan posisi Agresi Militer II di Yogyakarta pada bagian atas dan di bawahnya tentang S. Rukiah yang menjadi koresponden Majalah Mimbar Indonesia dan Pudjangga Baru.

Banyak kemungkinan yang dapat digarap dalam menjaring peristiwa-peristiwa besar untuk kemudian ditarik ke peristiwa sederhana sebagaimana dihadirkan lini masa “Kejatuhan dan Hati: Denyut Romansa di tengah Gejolak Revolusi”. Berangkat dari lini masa ini saja, kita bisa lihat bahwa banyak kemungkinan yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait bagaimana karya sastra “dihadirkan” dan “diposisikan” dalam sebuah pameran—belum lagi ketika ditelaah bagaimana seniman lain terlibat dalam pameran tersebut dalam merespon S. Rukiah. (*)

Foto: @jurnalkarbon

About author

Esha Tegar Putra adalah penyair dan peneliti seni.
Related posts
Artikel

Pulang-Pulang, Folklor Hilang

Artikel

Buya H. Mansur Dt. Nagari Basa: Ulama dan Pendidik yang Haus Ilmu

Artikel

Situs, Status dan Makna: Manufacturing Memory Monumen TBOS 

Artikel

Penjuluk Sayup, Dahan Tinggi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *