Artikel

Perang yang tak Nyata: Revolusi Indonesia di Mata Novelis dan Reporter Belanda (Bag III)

Artikel karangan Tessel Pollman ini diterbitkan dengan judul asli, “The Unreal War: The Indonesian Revolution Through the Eyes of Dutch Novelist and Reporters,” Indonesia, 69 (2000), hal. 93,–106. Diterjemahkan oleh Haldi Patra. Diterbitkan Garak.id untuk tujuan pendidikan, bukan tujuan komersil.

***

(Sambungan dari bagian II)

Pada 1945-49, gairah atas suatu peperangan yang agresif adalah hal yang asing bagi kebanyakan masyarakat Belanda. Sebaliknya, ada gairah yang ganjil untuk melakukan amal baik yang memperlihatkan pandangan umum di Belanda pada saat itu—jika diperlukan, amal baik ini harus ditujukan kepada orang-orang miskin dan tertindas. Tidak ada negara di Eropa yang menghasilkan misionaris Katolik dan Protestan sebanyak yang dihasilkan Belanda pada 1946. Hofwijk sendiri merupakan reporter bagi koran Katolik, di mana kebanyakan koran mematuhi otoritas sipil. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh mingguan Vrij Nederland, seorang perwira berkomentar berdasarkan fakta bahwa selama masa pendudukan Jerman ketika begitu banyak orang Belanda yang dipenjara, kepatuhan adalah sebuah kebiasaan normal dari kehidupan sehari-hari.[1] Jurnalis kritis sangat langka. Hanya harian Het Parool dan De Waarheid dan mingguan De Groone Amsterdammer dan Vrij Nederland yang kritis. Yang lainnya lebih jinak, lima tahun pendudukan Jerman telah meninggalkan tidak hanya perasaan anti-perang, tetapi juga pers yang patuh. Sedikit saja kritisisme adalah bentuk sikap ofensif.

Dengan keterikatan atas kepatuhan semacam itu, Hofwijk melakukan usaha terbaiknya. Dia menulis, bahwa taktik bumi hangus telah dilakukan oleh musuh, bukannya oleh pasukan Belanda, walaupun ia tahu lebih banyak tentang itu.[2] Dia juga mengklaim bahwa mentalitas tentara tidak semuanya kolonialis: gambaran “. . . kelompok turis bersenjata,” untuk pasukan mobil sebagaimana mereka memanggil diri mereka sendiri, Hofwijk menegaskan bahwa “. . . hal itu sangat tidak kolonial.”[3] Hofwijk, mengutip seorang perwira senior, mengulang sentimen ini ketika mereka secara sarkastik mendeklarasikan:

Setelah semuanya, kita adalah kolonialis, ketika kita menyerang, itu murni untuk menekan Indonesia . . . tetapi di kampung, orang-orang tidak percaya hal ini, dan ketika orang-orang meninggalkan desa mereka yang terbakar, dengarkan ini, kepala desa tidak menerima ini. Bagaimanapun, mereka tidak bisa berbicara bebas karena mereka akan diculik setelahnya. Hanya masyarakat yang hidup 14.000 kilometer jauhnya dari sini yang berteriak kami melakukan pembunuhan dan menimbulkan kekacauan.”[4]

Dalam situasi apapun, seharusnya perjuangan di Hindia-Belanda tidak disebut sebagai perang kolonial. Dalam laporan Hofwijk, sikap tentara terhadap Hindia jelaslah berbeda dibandingkan sikap pebisnis dan pegawai pemerintahan kolonial sebelum perang. Seorang letnan yang muncul dalam laporan-laporan Hofwijk mengartikulasikan poin ini secara ringkas:

Kolonialis yang asli masih ada di sini. Jika ada yang berbicara dengan beberapa orang Hindia, mereka selalu menyalahkan kami karena tidak menjaga masyarakat asli: mereka mengatakan kami tidak seharusnya menindas mereka tetapi karena kami blanda (Belanda), pada akhirnya, orang-orang asli itu hanya sedikit memiliki perhitungan—ketika kami menawarkan mereka jari, mereka akan meraih seluruh tangan. Jika kami menyenangkan, mereka menganggap hal ini sebagai kelemahan. Tetapi aku tidak menyukainya, orang-orang ini sama seperti kita, dan meskipun aku bisa saja salah, aku memilih untuk  menyenangkan mereka seperti orang lainnya.[5]

Jarak yang memisahkan para tentara sukarelawan Belanda, yang hanya memenuhi tugas mereka (Hofwijks menyebut mereka demokrat terbaik), dari penduduk kolonial sebelum perang membentang amat luas, lebih luas dari kehidupan. Tema ini muncul dalam banyak novel dan laporan jurnalistik tentang tahun-tahun revolusi. Konflik ini adalah antara persepsi Belanda tentang Hindia, dan masyarakatnya, tentara wajib militer dan kebanyakan dari perwira dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan sulit yang menghantui mereka sehari-hari. Untuk siapakah sebenarnya mereka bertarung? Atau apakah pengabdian mereka adalah untuk mengakomodasi para kolonialis Belanda tua itu, para babi gemuk itu? Kurangnya wawasan politik, bercampur dengan absennya informasi publik, koran, pendidikan, dan pengalaman politik pribadi semuanya berkontribusi membentuk perasaan bersama tentang kehampaan yang dimiliki oleh banyak kombatan non-profesional. Para tentara ini memiliki pertanyaan yang esensial: untuk apa semua ini dan untuk apa semua penderitaan ini? Bahkan Hofwijk, meskipun dengan optimismenya terhadap moralitas “orang-orang kita” di Hindia, tidak bisa menyelesaikan pertanyaan ini. ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa rata-rata tentara merasa seperti tentara bodoh/umpan meriam, dan dia pun berkomentar soal ini. Seperti biasa, bagaimanapun, dia mengilhami observasi tersebut dengan benderang idealisme dan pemujaan. Tetapi saya yakin Hofwijk tidak sepenuhnya berhasil meyakinkan para pembacanya ketika ia menekankan betapa bangganya ia ” . . . untuk orang-orangku, tentang menjadi Belanda, ketika kulihat tentara kita setiap hari bekerja keras . . . berkeringat dan kelelahan dan remuk-redam membanting tulang, berjuang, bergerak untuk pekerjaan yang jujur ini yang banyak orang sulit untuk memahaminya, tetapi tetap mereka laksanakan. Mereka hanya mengerjakan tugas mereka.”[6]

“Mereka,” prajurit dan perwira, bertanya-tanya mengapa mereka di sini, di Hindia, di dunia yang penuh dengan kontradiksi.

Kontradiksi itu sangat jelas direkam oleh tim medis A. van Helvoort yang mendeskripsikan masa dinasnya di Hindia-Belanda dalam sebuah buku berjudul De verzwegen oorlog: dagboek van een hosprik (The Silence War: Diary of a Medic).[7] Sebagai seorang medis, ia secara langsung berhadapan dengan ironi peperangan yang membuat tentara Belanda berperang melawan oposisi Republikan di sebuah negara yang sangat jauh yang, secara hukum, bukanlah negara asing. Indonesia masih bagian dari Kerajaan Belanda, yang berarti bahkan para pemberontak Indonesia, para “teroris” itu juga berhak untuk penanganan medis Belanda. Dan sering para “teroris” nasionalis Indonesia ini mendapatkan penanganan tersebut. Hal ini merupakan penemuan yang menakjubkan terhadap dunia medis. Siapa yang memiliki akal sehat akan memberikan penanganan medis terhadap musuh yang setelah ia dibebaskan akan kembali bergabung dengan pasukannya dan menyerang kita? Hal yang mencengangkan bagi Van Helvoort adalah bahwa bagaimana Belanda menangani ribuan tahanan perang Republikan yang diperlakukan dengan baik itu, mereka diberikan makanan dan minuman, kadang disediakan pakaian hanya untuk kembali ke teritori Republikan dan melanjutkan serangan mereka terhadap tentara Belanda. Sedangkan orang-orang Belanda yang ditawan oleh musuh jarang yang bisa tetap hidup. Dan jikapun selamat mereka mengalami cacat parah. Ketidakadilan itu menuntun ke kejahatan perang, Van Helvoort melanjutkan, deskripsi para penjahat ini dengan “ekses” adalah hal yang biasa selama masa itu:

. . . mereka adalah resimen infantri 2-5 RI yang mengalami “ekses” karena sulit untuk menghindarinya. Saya membayangkan jika seseorang dari kampung menembakmu, kau ingin membalas menembak dan membidik semua hal yang terlihat bergerak. Jadi ibu-ibu dan anak-anaknya menjadi target tembakan. Tapi para ibu dan anak-anak empat belas atau lima belas tahun membawa senjata dan menembaki ke arah orang-orangmu. Dalam kondisi seperti itu, tidak bolehkah orang-orang kita diizinkan untuk balas menembak?[8]

Skirzofenia dalam peperangan ini menjadi hal yang membingungkan bagi kebanyakan tentara Belanda. Pada satu sisi, peperangan ini seharusnya menjadi misi kemanusiaan. Pada sisi lain, konflik telah menjadi perang gerilya total yang membuat sulit untuk membedakan manakah pejuang gerilyawan Republik dan petani biasa. Suatu hari, seorang tentara Belanda sedang mengurusi seorang anak-anak lelaki yang kurus, atau mereka sedang mengimunisasi penduduk, tiga hari selanjutnya, orang-orang ramah, murah senyum, tahu terimakasih berganti wajah dan menjadi musuh. Sebagai retrospeksi, banyak dari mereka yang sampai pada kesimpulan bahwa orang-orang desa itu tidak se-pro Belanda seperti yang mereka bayangkan. Selama masa 1945-1950, bagaimanapun juga, penjelasan yang digunakan untuk menjelaskan transformasi itu adalah para petani itu dipaksa untuk berpartisipasi dalam perang gerilya, tidak peduli apakah mereka menginginkannya atau tidak, oleh kompatriot teroris mereka. Para teroris dan ekstermis nasionalis dideskripsikan sebagai:

. . . orang-orang militer berpakaian sipil tidak berani terlibat dalam pertempuran terbuka tetapi hebat dalam menerapkan taktik gerilya yang mereka pelajari dari Jepang; pelopor (revolusioner) yang pada suatu waktu akan bekerja di ladang seperti petani, tetapi pada momen berikutnya akan mengambil senjata dari parit untuk menembakimu; orang-orang itu meneror dan membunuh orang-orang mereka sendiri dan menyalahkan Belanda atas tidakan yang menyedihkan itu.[9]

Retorika ini menghasilkan rasa kasihan yang diintensifkan oleh panas gerah di hutan di mana peperangan gerilya berkobar dan para wajib militer Belanda kurang terlatih dengan kondisi pertahanan yang minim meski senjata dan amunisi melimpah. Tentara Belanda di semua pangkat—sukarelawan, wajib militer dan perwira, merasa tidak paham dan ditinggalkan. Mereka terbatas dalam aksi karena kebijakam pemerintah Belanda, yang menyediakan banyak senjata, aka tetapi diberikan makanan dan pakaian yang buruk dan gaji rendah (ekonomi Belanda belumlah sehat setelah pendudukan Jerman). Mereka bertarung dalam sebuah perang yang seharusnya bukanlah perang yang nyata, tetapi bagaimanapun mereka menghadapi pertempuran yang brutal. Kebrutalan perang gerilya diabaikan oleh warga kolonial Belanda terutama para wanitanya, yang ingin berdansa dengan para perwira (“merayu para wanita tersebut adalah pemandangan yang menjijikan”). Hal ini berlanjut ketika para tentara secara resmi tetap bertarung atas nama penduduk desa berkulit cokelat—penduduk desa yang yang sering terbukti siap untuk bertarung pada pihak Republik,  terlepas dari apakah mereka dipaksa atau tidak untuk melakukannya. Suasana penyangkalan dan mengasihani diri sendiri ini cenderung menimbulkan sesuatu yang bertolak belakang dengan realitas dan menciptakan mitos-mitos yang ironis, seperti cerita bahwa setiap tawanan perang Indonesia diperlakukan dengan baik oleh Belanda, meskipun banyak dari tawanan tersebut yang dibunuh. Hal ini menggema dalam buku yang ditulis oleh veteran—veteran bisa berarti wajib militer, sukarelawan dan perwira—berjudul thank you very much, gentleman. The forgoten army in the indies, 1945-1950.[10] Kepahitan dari judulnya merefleksikan kemarahan dari mereka yang merasa dilhianati oleh para politisi.

Sentimen-sentimen para veteran atas dendam dan kepedihannya hanya mendapatkan sedikit respon di Belanda. Para politisi dari periode 1945-1950 tetap di posisinya setelah kekalahan dalam perang. Karena kekalahan di Hindia-Belanda tidak menimbulkan bencana ekonomi, orang-orang Belanda menerimanya dengan pasif. Hanya sedikit perhatian diberikan kepada pribadi dan masalah-masalah sosial para veteran. Tak jauh berbeda dengan itu, hanya sejumlah kecil orang yang menaruh perhatian terhadap bencana yang menghancurkan Indonesia, baik dalam jumlah jiwa yang hilang ataupun kondisi sosialnya yang hancur. Dua dekade kemudian, selama protes internasional terhadap intervensi Amerika atas Vietnam, bahkan beberapa warga negara Belanda berusia lanjut yang masih tersisa jarang sekali melihat kesamaan antara langkah sembrono Amerika di Vietnam dengan pasifikasi di Hindia-Belanda.

Perubahan terjadi pada 1969. Psikolog Hueting tampil di TV dan mempresentasikan versinya tentang misi kemanusiaan Belanda: ia mengakui bahwa ia telah menganiaya orang dan ia menyesalinya. Apa yang semua orang tahu sekarang menyeruak keluar. Pemerintah memerintahkan sebuah studi yang dipublikasikan sebagai Excesssennota. Van Doorn dan Hendrix, menganalisis laporan-laporan kekejaman untuk digali. Para veteran mengeluhkan bahwa paparan media yang didasari hasil penelitian itu bersifat tidak adil. Namun, hal ini tidak mendapat respon lebih jauh untuk mendefinisikan kembali periode 1945-1950 sebagai zaman perang.

Ketika kekejaman, “ekses” atau “kejahatan perang” itu mulai diteliti dan dipaparkan, sebuah nostalgia yang menyebar luas tentang kehidupan di koloni-koloni mulai tumbuh di Belanda; toko-toko menampilkan buku-buku dengan gambar yang mengkilap tentang orang kulit putih berbusana santai di bawah pohon palm. Sedangkan buku-buku yang berfokus pada sejarah Indonesia setelah perang tidak diminati. Kisah-kisah tentang kejahatan perang yang dilakukan oleh “orang kita” di seberang lautan sekarang dianggap sah. Tetapi sebagai suatu bangsa, kita memahami diri kita sendiri kurang lebih sebagai pasifis seperti kita pada 1945-1950. Pada akhirnya tidak pernah ada perang sama sekali. Paling tidak, bukanlah perang yang nyata. (*)

 

Ilustrasi oleh: Amalia Putri

 

Catatan kaki:

[1]Tessel Pollmann, Bruidstraantjes en andere Indische geschiedenissen (Den Haag: SDU, 1999), hal. 116.

[2]Hofwijk, hal. 31.

[3]Hofwijk, hal. 43.

[4]Hofwijk, hal. 95.

[5]Hofwijk, hal. 168.

[6]Hofwijk, hal. 16.

[7]A. van Helvoort, De verzwegen oorlog. Dagboek van een hospik in Indie 1947-1950 (Groningen: Xeno, 1988).

[8]Helvoort, hal. 62–63.

[9]Helvoort, hal. 62.

[10]Anton de Graaff, De heren worden bedankt, met het vergeten leger in Indie (Franeker: Van Wijnen, 1986).

 

Bibliografi

Bank, J., ed., De Excessennota, nota betreffende het archiefonderzoek naar de gegevens omtrent excessen in Indonesie begaan door Nederlandse militairen in de periode 1945-1950 (Den Haag: SDU, 1995)

Bezemer, T. J., Beknopte Encyclopaedic van Nederlands Oost-Indie (’s Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1921)

Doom, J. A. A., dan W. J. van en Hendrix, Het Nederlands lndonesisch Conflict; ontsporing van geweld (Amsterdam: De Bataafsche Leeuw, 1983)

Graaff, Anton de, De heren worden bedankt, met het vergeten leger in Indie (Franeker: Van Wijnen, 1986)

Helvoort, A. van, De verzwegen oorlog. Dagboek van een hospik in Indie 1947-1950 (Groningen: Xeno, 1988)

Hofwijk, J. W., Dit hitte van de dag;onze soldaten in Indonesia (Heemstede: De Toorts, 1947)

Jong, L. de, Het Koninkrijk der Nederlanden in de Tweede Wereldoorlog, (Leiden: Martinus Nijhoff, 1988)

Pol, Willem van de, Kerels van de Daad (’s Gravenhage: W. van Hoeve, 1947)

Pollman, Tessel, “The Unreal War: The Indonesian Revolution Through the Eyes of Dutch Novelist and Reporters,” Indonesia, 69 (2000)

Pollmann, Tessel, Bruidstraantjes en andere Indische geschiedenissen (Den Haag: SDU, 1999)

———, “Ko Zweeres, dissident tegen wil en dank,” in in Bruidstraantjes en andere Indische geschiendenissen (’s Gravenhage: SDU, 1999)

———, “Oorlogsmisdaad of exces,” in Bruidstraantjes en andere Indische geschiendenissen (’s Gravenhage: SDU, 1999)

Rossum, G. M., Groen is de Oetan (Leiden: J. J. Groen & Zoon N. V., 1947)

Verstraaten, H., “De oorlogsverslaggevers van 1947,” Vrij Nederland, 5 Juli 1980

Related posts
Artikel

Dua Diskursus dalam Pengujian UU Pers

Artikel

Apa yang Bisa Kita Bicarakan Soal Pantek

Artikel

Rupa di Balik Kritik

Artikel

Tentang Penambahan Periode Jabatan Presiden

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *