Artikel

Wisata Menuju Rumah

Rute Padang-Bukittinggi ialah jalan lintas kota yang paling sering saya tempuh semasa kuliah.  Saya kuliah di Padang dan berumah di Bukittingi. Meskipun semasa kuliah  menyewa kamar alias nge-kos di Kota Padang, pulang kampung nyaris dilakukan tiap minggu dan waktu-waktu libur. Bahkan kalau tidak sempat bermalam di rumah, karena ada kegiatan ekstrakurikuler misalnya, saya sesekali juga pulang dengan balik hari. Sebab perjalanan dari Padang ke Bukittinggi begitu mengesankan.

Bagi saya, itu tidak cukup sekedar disebut sebagai “lagi pulang kampung”. Barangkali bisa dinamai Perjalanan Wisata Menuju Rumah. Saya terkenang, hampir tidak pernah berkedip mata ketika bus yang saya tumpangi melewati Lembah Anai. Biasanya kalau sudah begitu, jendela bus Saya buka dan persilahkan angin dingin lembah menampar-nampari pipi. Seperti terapi yang mustajab meredakan pusing kepala.

Air-air berjatuhan, lintasan kereta tua yang pendiam, dan monyet-monyet (macaca fascicularis) bermain di tepi jalan, tak pernah jemu saya pandang-pandang. Hampir tiap minggu, selama empat setengah tahun. Satu lagi, yang membuat saya gandrung pulang, ongkos bus Padang-Bukittinggi terbilang murah. Hanya dua puluh ribu rupiah saja, tiada pernah berubah selama saya kuliah.

Pernah saya hitung, ternyata bila saya punya libur dua hari, Sabtu dan Minggu, lebih hemat biaya hidup dengan dua jam pulang ke Bukittinggi daripada tinggal di Padang. Begini matematikanya: makan dua kali sehari. Nasi sebungkus lima belas ribu rupiah. Selama dua hari biaya makan saya 60 ribu, tambah biaya lain-lain, seperti beli kopi, supermi, panadol, anggaplah tiga puluh ribu rupiah. Maka dua hari itu biaya hidup di Padang setidaknya sembilan puluh ribu rupiah. Sedangkan bila pulang, saya hanya membelanjakan uang empat puluh ribu rupiah untuk hidup dua hari. Sebab, sama tahu saja, makan di rumah, Alhamdulillah gratis.

Tapi Padang-Bukittinggi tidak tentang yang indah-indah semua. Ada macet panjang setiap hari pasar di Koto Baru. Ruas jalannya sempit, sementara aktivitas bongkar muat komiditi begitu ramai. Terlebih kesibukan itu dilakukan di badan jalan. Tak terelakkan lagi kendaraan bersusun bak ular kalau sudah hari Senin di Koto Baru. Panjangnya bisa sampai tujuh kilometer. Biasanya pengguna jalan yang terjebak macet harus menunggu hingga dua jam untuk bisa melanjutkan perjalanan. Atau menempuh jalan berliku di Malalak.

Pernah ada wacana untuk mengatasi macet di Pasar Koto Baru. Saya mendengar, akan dilakukan pelebaran jalan, dibangunkan jembatan layang, dan relokasi pasar. Tapi belum ada nampaknya yang terlaksana dengan bulat.

Mengubah pasar di manapun tentu tidaklah mudah. Pasar merupakan tempat transaksi, yang penuh perhitungan. Tawar-menawar alias ago-maago adalah kebudayaan pasar tradisional. Tapi tentu, selalu ada perhitungan dalam proses tersebut.

Perubahan terhadap struktur pasar pun begitu. Tiada pedagang yang mau jika ada kebijakan terhadap pasar bakal merugikan galeh-nya. Maka setiap usul kebijakan yang muncul, akan diseleksi dulu dalam proses sosial-ekonomi tersebut. Baru dapat diterima oleh ekosistem pasar. Saya tertarik untuk menimbang rencana pengkondisian pasar ini satu-per-satu.

Pertama, pelebaran jalan. Jika ini bisa dilakukan, pedagang dan pembeli pasti senang, karena ruang geraknya semakin lapang. Tapi masalahnya, kemana lagi jalan itu bisa diperlebar. Ruas jalannya sudah mentok ke rumah orang. Tidak mungkin toh, untuk pelebaran jalan, rumah orang tergusur. Nanti malah menimbulkan masalah baru.

Kedua, membangun jembatan layang. Ini juga terkait masalah tanah. Kabarnya mau diambil lahan PT KAI. Tapi lahan PT KAI pun tidak dalam kondisi kosong, sudah banyak yang menghuni. Itu pasti akan bentrok, jika lahan disitu mau dialih-fungsikan. Jangankan dengan masyarakat, antara Pemerintah Daerah dengan BUMN pun akan bentrok, sebab PT KAI sudah punya program revitalisasi jalur kereta api di Sumbar.

Ketiga, relokasi. Tidak jauh sebelum Pasar Koto Baru, sebelah kanan agak ke dalam, jika dari Padang, sudah ada lokasi baru dibuat untuk pasar itu. Tapi juga tidak ditempati. Saya kurang ngerti juga itu karena apa. Yang jelas, tempatnya sudah ada, beserta bangunan. Apakah kapasitasnya kurang cukup? Tapikan bisa dibagi dua, sehingga tempat yang lama tidak begitu sesak. Barangkali sulit untuk membagi pedagang yang sudah berkelompok seperti paguyuban.

Padalah menurut spekulasi Saya, direlokasi sedikit, Pasar Koto Baru tetap akan menjadi Pasar Koto Baru –mungkin dengan sedikit adaptasi. Karena Pasar Koto Baru memiliki komoditi khas, Siapalagi kalau bukan keluarga besar sayur. Bila disebut Pasar Koto Baru, orang pasti akan ingat sayur-sayur segar. Sayuran Koto Baru biasanya berasal dari kebun-kebun sayur kaki Gunung Merapi dan Singgalang. Sayuran segar itu diangkut tiap pekan ke berbagai provinsi: Riau, Jambi, Sumatera Utara, hingga Bengkulu.

Tidak mudah untuk menciptakan permintaan atau menghidupkan pasar di sepanjang lintas Padang-Bukittinggi. Kalau komoditasnya tidak khas, dan unik, maka tiada kan bertahan. Meskipun potensi pasar tinggi, dengan ramainya kendaraan berlalu-lalang, mereka akan tersedot oleh magnet dua kutub, Kota Padang dan Kota Bukittinggi. Juga Kota Padang Panjang, tentunya sebagai kutub ketiga.

Bila yang ditawarkan hanya komoditas biasa-biasa saja, orang akan tertarik pergi ke yang lebih banyak variannya, di pasar pusat kota. Paragede angek di Lembah Anai, bika-bika di X Koto, dan sayur-mayur Koto Baru, adalah pemain tangguh itu. Saya melihat banyak orang pernah mencoba membuka rumah makan di sepanjang lintas Padang-Bukittingi, mulai dari Padang Pariaman hingga X Koto, Tanah Datar. Namun hampir semua mati. Karena tidak ada panganan yang khas untuk ditawarkan, selain seperti biasa: Nasi Padang. Sedangkan rute Padang-Bukittinggi bukanlah persawangan.

Kabarnya baru-baru ini Pemerintah sudah mendapat persetujuan dari masyarakat untuk Pasar Koto Baru digeser ke belakang. Kemudian, hasil dari penggeseran itu dijadikan untuk memperlapang jalan. Entah bagaimana nanti perpaduan sedikit relokasi dan sedikit perlebar jalan ini hasilnya, tapi ya semoga saja dapat bermanfaat bagi semua.

Editor: Hemi Lavour Febrinandez

Ilustrator: Amalia Putri

Related posts
Artikel

Dua Diskursus dalam Pengujian UU Pers

Artikel

Apa yang Bisa Kita Bicarakan Soal Pantek

Artikel

Rupa di Balik Kritik

Artikel

Tentang Penambahan Periode Jabatan Presiden

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *