Sorotan

Orkes Taman Bunga: Dari Kita Kita Ke Bhineka Rasa

Sumatera Barat (Sumbar) punya peranan penting dalam sejarah musik Indonesia. Hal tersebut dilakukan oleh dua orkes legendaris. Pertama Orkes Gumarang. Orkes ini lahir pada tahun 1953 merupakan grup musik yang menjadi salah satu pionir sejarah band di Indonesia. Orkes Gumarang didirikan oleh beberapa orang yang berasal dari Sumbar. Diantaranya yaitu Awaluddin Djamin, Anwar Anif, Alidir, Julius Bahri Noer di jalan Jambu, Menteng, Jakarta. Nama Gumarang diadaptasi dari nama seokor kuda dalam Kaba Cindua Mato.


Orkes ini membawakan lagu-lagu bernuansa mambo, dan Minang. Orkes Gumarang mencapai masa jayanya ketika dipimpin oleh Asbon Madjid. Orkes Gumarang pernah konser di Amerika pada acara New York Fair dan keliling Amerika Serikat selama sebelas bulan. Kemudian pada tahun 1970 Orkes Gumarang mengikuti Pekan Raya Expo di Osaka Jepang. Lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Orkes Gumarang hingga sekarang banyak di cover oleh penyanyi di Sumbar. Sebut saja lagu Ayam Den Lapeh, Kambanglah Bungo, dan Laruik Sanjo.


Pada tahun 1980 Asbon Majid tutup usia. Penunggang handal Gumarang itu harus melepaskan tali kekangnya. Seiring kepergian Asbon menghadap Tuhan, Orkes Gumarang pun dipetikemaskan oleh waktu dan personilnya terpisah-pisah.


Selanjutnya ada Orkes Kumbang Tjari. Orkes ini lahir pada tahun tahun 1961. Kumbang Tjari didirikan oleh Nuskan Sjarif. Orkes kumbang Tjari terkenal dengan lagu Randang Darek, Kaparinyo dan Bareh Solok. Musik yang diusung Orkes Kumbang Tjari yaitu rock and roll dan Minangkabau. Orkes ini memiliki identitas tersendiri jika dibandingkan dengan pendahulunya. Jika Gumarang identik dengan permainan piano, Kumbang Tjari identik dengan petikan-petikan gitar yang dimainkan Nuskan Sjarif. Hampir sama nasibnya dengan pendahulunya, Orkes Kumbang Tjari berangsur-angsur eksistensinya digerus zaman.


Setelah Orkes Gumarang dan Kumbang Tjari bubar, tidak ada lagi bermunculan orkes-orkes yang menjadi suksesor kedua orkes legendaris tersebut. Tidak ada grup musik dari Sumbar yang berbicara banyak di kancah permusikan Indonesia. Penyanyi Minang yang bermunculan setelah itu hanya tekun mengcover lagu-lagu dari Orkes Gumarang dan Kumbang Tjari. Tidak ada yang benar-benar baru. Nasi yang ditanak menjelang malam digoreng kembali keesokan harinya. Lima puluh tahun lebih lamanya tidak ada orkes yang muncul di Sumbar.


Sampai akhirnya pada bulan Desember tahun 2012 di kota Padang Panjang, sekelompok anak muda yang mayoritas berkuliah di Institut Indonesia Padang Panjang menggagas sebuah grup musik. Mereka memberi nama grup itu Orkes Taman Bunga. Orkes ini adalah grup musik yang mengusung cita rasa lokal Minangkabau, Melayu, dan musik dangdut yang dikemas dalam bentuk populer. Lagu-lagu yang diciptakan Taman Bunga mayoritas merupakan refleksi dari peristiwa sekitar lingkungan tempat mereka berproses. Lirik lagu yang dinyanyikankan dikemas dengan memadukan antara bahasa Minangkabau dan Indonesia. Kemudian diikat dengan bunyian instrumen etnik rumpun Melayu dan intrumen modern.


Buah dari ketekunan berproses, pada tahun 2016 Taman Bunga melahirkan album pertama yang diberi judul Kita-Kita. Pada album Kita-Kita ada dua lagu yang saya pikir berhasil membentuk identitas Taman Bunga dan dikenal oleh khalayak luas. Pertama lagu Mars Taman Bunga dan Gali-Gali Gaman. Irama dangdut yang melebur dengan bunyian instrumen tradisi Minangkabau melahirkan materi musik yang berkualitas. Lirik lagu yang dinyanyikan Taman Bunga mudah diingat. Meskipun pada bagian-bagian tertentu saya masih mendengar kuatnya pengaruh dari orkes-orkes sebelum Taman Bunga lahir—OM PMR, PSP, Gumarang dan Kumbang Tjari. Saya pikir itu hal yang wajar dalam proses penjajakan identitas.


Positifnya Taman Bunga juga mengakui hal tersebut. Pada sesi talkshow acara Sumbar Mengorkes pada tahun 2019, personil Taman Bunga menyatakan bahwa materi-materi yang dihadirkan dalam album Kita-Kita masih kuat pengaruh dari orkes-orkes pendahulunya.


Saat beberapa seniman era sekarang butuh pengakuan atas ke-orisinalitas-an karya mereka dan sering kali mengkultuskan diri bahwa apa yang mereka ciptakan adalah suatu hal baru, Taman Bunga begitu bijak bersikap terhadap karya-karya mereka. Ketika manggung pun Taman Bunga juga sering membawakan lagu-lagu ciptaan OM PMR, Orkes Nunung CS, dan Bing Slamet sebagai bentuk apresiasi.


Kiprah Orkes Taman Bunga dari tahun ke tahun mulai menunjukkan perkembangan. Taman Bunga sudah manggung keluar dari kota Padang Panjang. Taman Bunga sudah jadi langganan mengisi acara-acara kesenian di Sumbar dan provinsi lain di Sumatera—Riau dan Bengkulu. Lagu-lagu ciptaan Taman Bunga punya tempat tersendiri di kalangan penikmat musik Sumbar. Mulai dari remaja hingga orang tua. Hal tersebut dapat dilihat dari dokumentasi manggung Taman Bunga yang menghadiri berbagai helatan acara. Mulai dari bintang tamu festival sekolah hingga acara seni berbasis masyarakat.


Pada hari Sabtu tanggal 24 Oktober tahun 2020 di kota Padang, Taman Bunga meluncurkan album kedua yang bertajuk ‘Bhineka Rasa’. Peluncuran album ini tertunda dari jadwal peluncuran sebelumnya. Pihak Taman Bunga berencana akan meluncurkan album kedua sebelum bulan Ramadhan tahun ini. Penyebabnya karena larangan kegiatan yang mendatangkan keramaian. Pada peluncuran album kedua teknis peluncurannya berbeda. Acara diadakan dengan live streaming di channel Youtube Taman Bunga. Dan penonton di tempat acara dibatasi. Hanya 60 orang dan mematuhi protokol kesehatan. Memakai masker, mejaga jarak dan mencuci tangan.


Saya jadi utusan tempat bekerja—Kapalo Kombed Clothing pergi ke tempat peluncuran album kedua Taman Bunga. Brand tempat saya bekerja menjalin kolaborasi dengan Taman Bunga dalam produksi merchandise album Bhineka Rasa. Saya berangkat ke Padang tidak sendirian. Saya berangkat dengan dua orang rekan—Azwandi dan Juni. Siang ini cuaca kota Bukittinggi cerah. Perjalanan kami dibawah langit biru bulan Oktober menuju Padang berjalan lancar. Setelah enam bulan tidak ke Padang, saya melihat tidak ada perubahan dari ibukota Sumbar yang gubernur-nya hobi berpantun-pantun ‘aneh’ dan main band ini. Biasa saja, tidak ada hal yang signifikan selain jalan tol yang baru dibangun diatas sengketa tanah ulayat. Saya beristirahat terlebih dahulu dikosan Azwandi.


Pada sore hari menjelang Magrib, saya berangkat ke lokasi launching album Bhineka Rasa. Tempatnya di 3AM Creative Space, Padang. Sesampainya dilokasi, saya menemui manajer Taman Bunga, Albert Rahman Putra (Albert). Saya dan Albert membahas perihal merchandise yang saya bawa.


Konser peluncuran album Bhineka Rasa dimulai pukul delapan malam. Semua personil telah siap dengan instrumen mereka masing-masing. Pastinya dengan kostum khas Taman Bunga. Pakaian nyentrik penuh warna ala tahun 80 an. Konser dibuka dengan lagu Mars Taman Bunga yang telah saya hapal sampai ke titik komanya.


Setelah membawakan dua lagu yang dipetik dari album Kita-Kita, para personil rehat sejenak. Konser diselingi dengan talkshow. Pada sesi pertama, pembicaran membahas perihal materi-materi musik yang ada pada album Bhineka Rasa. Dan kendala apa saja yang dihadapi masing-masing personil dalam proses penggarapan Album Bhineka Rasa. Mewakili personil yang lain, Leva , Bujadil dan Hario (Mr Josh) menyatakan bahwa Album Bhineka Rasa masih membahas fenomena yang terjadi di masyarakat sekitar. Mulai dari perayaan ulang tahun, efek medsos dan gadget, berita hoax. Sama halnya dengan album yang pertama, album Bhineka Rasa dikerjakan secara mandiri dibawah label Orkes Taman Bunga Family. Kemudian mereka menyatakan bahwa tidak ada kendala yang berarti dalam proses penggarapan Bhineka Rasa selain jarak. Kerena masing-masing personil Taman Bunga sudah banyak yang tidak menetap di Padang Panjang.


Talkshow sesi pertama selesai, para personil bersiap untuk membawakan lagu selanjutnya. Kali ini Taman Bunga membawakan dua lagu dari album Bhineka Rasa—Kito Badunsanak dan SeHaLa (Selamat Hari Lahir). Untuk lagu yang kedua, momennya sangat tepat karena salah satu personil Taman Bunga ada yang berulang tahun. Setelah membawakan dua lagu, talkshow sesi kedua dibuka oleh host. Di sesi kedua, pembahasan tertuju pada kiat-kiat apa saja yang dilakukan Taman Bunga sehingga bisa bertahan di belantika musik Sumbar. Pertanyaan yang dilontarkan host dijawab dengan celetukan-celetukan yang memancing gelak tawa oleh Leva. Tak lupa juga Albert selaku manajer Taman Bunga diundang keatas pentas untuk berbicara. Albert menjelaskan bagaimana awalnya ia bisa menjadi manajer Taman Bunga. Dan menyampaikan susah, senang dan kendala apa saja yang ia hadapi selama tujuh tahun belakangan bersama Taman Bunga. Talkshow selesai, Taman Bunga bersiap untuk membawakan lagu lagi. Pada sesi terakhir ini mereka membawakan tiga lagu—Gali-Gali Gaman yang dipetik dari album Kita-Kita, Kenanglah Hari Ini dan Raun Sabalik dari album Bhineka Rasa.

Ditengah kemeriahan acara malam ini, dibenak saya muncul suatu hal yang janggal. Dari sekian banyaknya kalangan yang mengucapkan ucapan selamat atas peluncuran album Bhineka Rasa di laman Instragram Taman Bunga—mulai dari OM PMR hingga selebriti ibukota, tidak ada perwakilan dinas kebudayaan Sumbar yang mengucapkan. Saya bertanya kepada Albert perihal tersebut. “Semua kalangan sudah saya beritahu dan saya juga tergabung di dalam grup Taman Budaya. Namun tidak ada respon.” Ucap Albert kepada saya. Ini benar-benar menjadi ironi. Apakah awak kapal di tepi pantai purus tersebut sudah kosong? Atau harus menunggu Taman Bunga konser tujuah benua, diundang ke acara talkshow televisi nasional baru diundang ke Purus?
Hampir setahun saya tidak menyaksikan Taman Bunga di atas panggung, dan malam ini kangen saya terobati. Saya membayangkan malam ini Asbon Madjid dan Nuskan Sjarif bersuka-cita menyaksikan anak kemenakan mereka melanjutkan apa yang telah diperjuangkan. Jalan yang diteroka mereka lima puluh tahun lalu tidak jadi dialih orang lalu.


Sekarang, padang savana musik Sumbar tempat Gumarang merumput dan Kumbang Tjari beterbangan tidak lagi ditumbuhi semak belukar. Namun telah jadi Taman Bunga yang membawa kebagiaan.

Penulis Wahyu Ramadhan

Editor Luthfi Saputra

Foto oleh Yogi Audranesa (2019)

Related posts
Sorotan

Di Tengah Badai Diskriminasi: Kisah Anak-anak Muda Mentawai di Padang

Sorotan

Dari Laga-laga ke Laga-laga

Sorotan

Teror Pemandangan Alam

Sorotan

Suka-suka di Hari Film Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *