Musik

Membincang Rimpang

Kami turut merayakan album teranyar Efek Rumah Kaca (ERK) melalui sesi dengar yang diadakan di Rimbun Espresso & Brew Bar (Rimbun), Padang (08/04/23). Sebuah perayaan kecil-kecilan atas tuntasnya penantian tujuh tahun pada album baru ERK, sejak Sinestesia. Album ini seperti kemenangan besar buat para Penerka (sebutan penggemar ERK), suatu comeback dengan album penuh setelah merilis Jalan Enam Tiga di 2020. ERK melangsungkan sesi dengarserentak di 10 kota terpilih. Menyambangi delapan kota di Indonesia, dan dua di Malaysia. Termasuk Padang–yang bersila di Rimbun, bekerja sama dengan jaringan distribusi atdemajors dalam acara “Mendengar Rimpang”.

Untuk acara sesi dengar yang pertama ini, penyelenggara di Padang tak ambil pusing. Dalam artian segala terjadi begitu saja di jangka waktu singkat. Namun tetap mempunyai kesan tersendiri untuk melanjutkan segala aktivitas kebudayaan Padang/Sumatra Barat sebelum dicelup Hari Raya. Mengingat fenomena Rimbun yang terus mencoba menggeser kedai kopi bukan hanya sebagai komoditas, melainkan punya akar untuk terus dibentangkan dalam menemukan kemungkinan-kemungkinan lain di dalamnya.

Malam itu, di lantai dua Rimbun yang relatif tersembunyi dari klakson lancang serta kehidupan dramatis yang sering menjadi tema gamblang, terlihat poster-poster trek Rimpang di dinding Rimbun terpampang. Kalimat “Sesi dengar audio visual album Rimpang dan peluncuran CD” dipancarkan proyektor. Hanya itu ornamen yang menandakan adanya sesi dengar album keempat ERK. Tanpa berpanjang-panjang dan memulai terlalu cepat, tepat pukul 21.00 WIB, Noverdy Putra (atdemajors Padang) muncul menggenggam mikrofon lalu dengan santai menyambut hadirin. Untuk memulai acara di malam itu, sejenak ia melempar kode pada pengunjung agar mendengarkan Rimpang dengan takzim, tenang, dan hening. Lampu meredup dan perlahan mati. Proyektor menembakkan opening credits lagu pertama sebagai awal dari rangkaian 10 lagu yang tersematkan di Rimpang.

Sungguh menarik bagi saya, Rimpang memuat lirik-lirik yang terasa dekat dan jujur. Penuh simbol aneh dan cerita-cerita tersembunyi di tiap lagu. Nyaris tak ada cerita tentang diri sendiri, kegelisahan diri sendiri, asyik dengan diri sendiri, hal-hal yang sifatnya personal. Sebagai band yang politis, ERK selalu menyajikan lagu-lagu yang murni punya kritik atas fenomena sosial. Dibuka oleh nomor pertama, berjudul “Fun Kaya Fun” yang dreamy dan mengawang. Mengingat hasil sentuhan suara Suraa (Cempaka Surakusumah) sebagai vokal tamu yang afdol untuk “Fun Kaya Fun”. Lagu ini masih menggemakan keistimewaan pop alternatif ERK yang kental. Menampilkan sihir seperti neo-psikedelia.

Dilanjutkan dengan “Bergeming”, setelah itu “Heroik” yang terdengar familiar dengan lantunan chord minor dan tarikan vokal khas Cholil. Bagi saya, “Heroik” menjadi lagu paling lugas di album ini. Menyambungkan titik temu kecenderungan lagu-lagu ERK yang anthemic dan catchy. “Sondang” dan “Kita yang Purba” menyambung tongkat estafet berikutnya, sehabis “Tetaplah Terlelap”. ERK bereksperimen di trek “Sondang”–yang jauh dari kata sederhana. Dibangun dengan fondasi tempo yang kadang tidak teratur, trek ini bercerita soal kematian aktivis Sondang Hutagulung, yang tewas terbakar 2011 silam. “Kita yang Purba” adalah lagu yang dimainkan dengan suasana jernih, tapi tabu jika membaca semua liriknya. Rancangan palet suara naik turun emosi dari vokal Cholil, serta unsur bunyi yang tekstural semakin hidup tiap detik. Dentingan gitar dan bass yang menonjol terdengar intim, menjadikan lagu ini semacam penawar racun yang magis dengan instrumen yang menghipnotis.

Rasa hormat yang mendalam pada ERK semakin memuncak ketika “Bersemi Sekebun” berkumandang. Mereka berhasil membungkus lagu ini tanpa cacat. Seolah menceritakan takdir dan perjuangan di jalan sunyi yang mesti dilalui banyak orang. Bukan berlebihan tanpa sebab, lagu ini seperti kotak ajaib yang sewaktu-waktu bisa mengeluarkan semburan Dandelion. Beberapa perang bukan untuk dimenangkan / Beberapa kemenangan bukan untuk dirayakan / Dan dalam rentetan kekalahan, bertahanlah sedikit lebih lama, lantun Herry Sutresna, alias Morgue Vanguard selaku kolaborator.

Sampai trek “Manifesto” sebagai yang terakhir, saya tidak menemukan rasa bosan untuk mendengarkan album ini. Memang, kita tentu punya ukuran masing-masing dalam menikmati sesuatu. Namun, fenomena musik dan band bagus itu betul-betul nyata terjadi, begitu juga dengan band jelek. Tidak semua hal tentang selera pribadi yang subjektif.

Visualisasi yang disuguhkan selama penayangan Rimpang menampilkan lirik-lirik yang tampak jelas, dan tumpahan-tumpahan tinta. Memakai warna-warni yang cocok dengan suasana di tiap lagu. Meski terkesan simpel, tayangan ini membantu dalam mengartikan pesan-pesan yang dibawa. Setelah lampu-lampu mulai dinyalakan, penayangan pun selesai dalam waktu kurang lebih 45 menit. Disambut tepuk tangan riuh rendah hadirin, kegiatan malam itu ditutup dengan foto bersama. Di dekat tangga, terlihat mereka yang hadir lantas mengamati poster-poster Rimpang, beberapa membeli kaset CD.

Kami coba beranikan diri berkenalan dengan Noverdy Putra. Menyempatkan ngobrol dengannya soal Rimpang, hingga terjadinya sesi dengar pertama ini di Rimbun. Noverdy Putra adalah pria berperawakan biasa dengan cambang. Sekilas tampak tak bertenaga. Ia adalah sosok di balik terpilihnya Padang sebagai salah kota yang “Mendengar Rimpang”. Saat bicara, punggungnya tegak yakin. Namun jawaban-jawabannya terdengar seperti ragu bagi orang yang belum terbiasa. Setiap kata yang ia utarakan tenggelam dalam memori–yang kadang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri. Memanggilnya Bang Ver, kami duduk bersamanya di pojok kanan lantai dua, menunggu Rimbun berbenah untuk tutup. Ia menekuk tangannya ke atas meja. Luthfi duduk di depannya, sesekali tersenyum tertib. Ariq diam melongo, berusaha mencerna percakapan. Sementara saya duduk di sebelahnya hingga obrolan berakhir. Sebentar lagi tengah malam, dan kami sudah mengobrol dengannya selama nyaris dua jam.

 

 

 

Boleh ceritakan bagaimana awal mula terjadinya sesi ‘Mendengar Rimpang’ di Rimbun?

“Kalau untuk sesi ‘Mendengar Rimpang’, itu inisiatifnya dari ERK. Habis itu baru mereka (ERK) ngontak demajors untuk di Padang. Jadi ERK punya ide, dan demajors support. Sedangkan ini adalah listening session yang pertama di Rimbun. Kita dari Rimbun memang akhir-akhir ini merasa, bahwa kita tidak bisa percaya sepenuhnya pada algoritma dan hal-hal yang disarankan Spotify. Makanya kami merasa di tahun ini–kami dengan demajors membayangkan bakal ada program listening session. Makanya bersambut sama ini, jadi kesannya lumayan. Sedangkan rencana awal waktu itu bikin listening session, hanya dalam bentuk format kecil, kayak tidak dihadiri sampai sepuluh orang, misalnya. Karena biar lebih intim dan lucu juga sih.

Waktu itu, awak juga belum bisa ngebayangin (teknis acara) dalam cakupan yang lebih luas. Kalau cuma berlima kan, kita bisa bergantian nge-check CD-nya sambil dengerin. Terus ngobrol kan? Oke tuh. Tapi ternyata dapatnya yang kayak ini, yaitu dengan scope acaranya yang lumayan besar. Sebelumnya di Jakarta mereka ngundang beberapa orang untukdenger ini pertama kali. Ternyata waktu itu antusiasme-nya lumayan. Karena hari ini, adalah privilese bisa mendengarkan album secara utuh dari awal sampai akhir. Nah, mereka bisa maksa orang untuk dengerin ini dari awal sampai akhir dengan adanya visual. Kebetulan di album ini mereka punya visual masing-masing lagu. Nah, jadi mereka mau coba bawa kegiatannya ke berbagai kota. Sebenarnya kemarin itu mereka minta diadakan di sebanyak-banyaknya kota. Cuma terlalu mepet, dan file-nya cukup besar. Jadi… ya udah.”

Bagaimana persiapan penyelenggara dalam waktu yang mepet itu?

“Persiapannya tiga hari, dan awak baru tempel poster-poster tuh tadi sore. File-nya baru nyampe tadi malam, karena butuh approval dari banyak pihak kayaknya, untuk melepas artwork. Kayaknya designer-nya juga memastikan tidak ada penyalahgunaan file agar tidak dijadikan t-shirt, misalnya. Jam dua malam awak baru dapat file, dan itu formatnya post card. Dan awak minta izin untuk mengubahnya jadi A3. Lantaran post card terlalu kecil. Dan dari tadi asam lambung waknaik, sumpah! Deg-degan. Dalam artian–bukan masalah yang hadir atau apa, cuma karena tidak ada KPI dari pihak ERK-nya. Bahkan sebenarnya pendaftaran (pengisian formulir Google) itu pun tidak diwajibkan, lagipula itu hanya bentuk pengelolaan di Rimbun.  ERK, mereka malah bilang ‘kami tidak mau pegang data orang’, dengan alasan privasi dan sebagainya.

Susah kalau band-nya udah begitu ya? Concern dengan banyak hal, jadi mereka gak mau collect data. Mereka bilang ‘kalau kamu mau collect data, silakan Ver. Tapi kami gak bertanggung jawab atas data yang kamu kumpulkan’. Sialan. Jadi karena begitu, bingung juga. Sempat mikir, mending berbayar atau dibundling sama minuman dan sebagainya, karena awak bisa tahu teman-teman datang karena udah donasi atau bayar dan semacamnya, gitu. Daripada orang-orang, kayak lewat-lewat se. Malah ada yang DM, ‘ERK-nya ada bang?’ Aduh. Selain itu persiapannya juga serentak di beberapa kota, termasuk Malaysia juga ada dua titik. Itu CD-nya yang di Malaysia di-handcarry oleh seseorang yang menjemput ke Jakarta, karena kalau dikirim, pasti gak sempat. Jadi effort-nya lumayan dari teman-teman ERK juga.”

Selama ‘Mendengar Rimpang’ tadi, ternyata tidak semua yang hadir tahu bakal ada kegiatan ini, dan ada beberapa lapisan suara yang tidak tertangkap oleh sound system. Apa pendapat Bang Ver soal itu?

“Seru sih. Tadi yang duduk di meja ini malah lagi ngerayain ulang tahun. Karena ERK-nya gak ada target KPI harus daftar dan sebagainya. Jadi kalau nge-blend sama pelanggan Rimbun jadinya gak masalah. Jadinya bagus dong! Siapa tahu mereka yang tiba-tiba datang baru denger ERK pertama kali. Makanya tadi dikasih pengertian aja di bawah sebelum mereka ke atas. Terus, awak berharap mereka gak keluar pas lagi dengerin Rimpang. Ternyata bener, dan mereka juga mau ikutan foto. Jadinya syukurlah kalau gitu. Meskipun sebenarnya secara audio awak tidak terlalu puas tadi. Karena, ternyata speaker yang awak punya tidak bisa mengcover semua frekuensi. Karena ada beberapa bagian, yang kalau di rumah awak dengarkan dengan proper, bakal terasa tiap layer yang ERK banget di album ini. Balik lagi, karena udah mepet jadinya gak kekejar. Tapi ya udahlah, seharusnya bisa jadi evaluasi, dan pengalaman baru bagi banyak orang.”

Melalui audio visual, kita bisa langsung merasakan nuansa yang dibawakan lagu-lagu ERK di Rimpang. Bagaimana kesan–atau yang dirasakan setelah ‘Mendengar Rimpang’?

“Waktu rilis digital, menurut saya pribadi butuh beberapa hari untuk melahap ini album. Lompatannya terlalu jauh. Kayak, ‘pantek, manga-lah ERK ko kini ko?’ Ketika di Sinestesia mereka sudah mulai rumit, Jalan Enam Tiga tuh kayak berusaha mengembalikannya ke hal-hal yang bisa kita pahami. Terus tiba-tiba mereka jadi kayak gini. Jadi saya berpikir ‘oh, ndak untuak den iko album lay doh’. Akhirnya setelah menonton visualnya, kita bisa memahami liriknya, karena akhirnya dalam visual ini kita tahu ada hal-hal yang ditekankan. Ada font yang di-bold, ada yang sengaja dibesarkan. Jadi kayak ada penekanan gitu pada apa yang ingin disampaikan. Misalnya, kenapa di Tetaplah Terlelap itu dikasih putih, kayaknya biar kita gak ngantuk nih. Biar ngagetin. Terus di Kita Yang Purba, mereka mulai ngasih yang kedap-kedip. Termasuk helai-helai kata seperti ‘dikelabui’, ‘delusional’, jadi kayaknya kita tiba-tiba ditampar–lantaran kalaudidengerin di Spotify bakal terasa flat.”

Bicara soal platform digital, tadi ada pernyataan mengenai keresahan Rimbun oleh algoritma Spotify. Boleh dijelaskan lagi?

“Memang yang dijual platform itu sebenarnya, adalah suasana. Platform gak jualan musik. Terutama Spotify. Awaksebagai yang jual CD di pojokan Rimbun, bahkan awak sampai bikin QR code ke semua album yang awak jual. Awaktempel manual ke semua album yang awak display. Dan itu di-scan ke Spotify. Karena ternyata, generasi hari ini–mereka pahamnya tampilan kayak gitu. Mereka scan album Nadin Amizah, lalu muncul di Spotify, karena mereka udah pernah like, jadi langsung kayak ‘Oh! Ini ya lagu Nadin’. Jadi lagu yang mereka like di Spotify pun belum tentu mereka tahu, siapa musisinya atau judul lagunya, gitu.

Belum lagi kita berbicara soal apakah mereka beli CD atau ndak. Cuma minimal kan ada interaksi jadinya di pojokan. Dan hari ini sebenarnya demajors sendiri yang jual rilisan fisik–tidak merasa, bahwa serba digital itu selalu mengganggu. Tidak. Justru hari ini, kita mesti bicara pakai ‘bahasa digital’ itu. Misalnya, awak coba cara siapin QR code di CD, dan langsung mengarah ke Spotify. Karena yang biasa dilihat sekarang kan elemen-elemennya Spotify.

Kami percaya, bakal selalu ada orang yang beli rilisan fisik, entah itu buat diputar atau cuma dipajang. Jadi menurut wakhari ini, ketika awak punya CD belum tentu bakal awak buka tuh. Toh, awak udah berlangganan di Spotify. Awak sebagai pribadi pun tidak termasuk orang yang jengah dengan digital. Sampai sekarang awak masih berlangganan Spotify. Awakdi Rimbun membayar pajak lagu setiap tahun ke LMKN. Sepertinya hal-hal konvensional dan digital akan berdampingan sih.”

Kenapa setelah berakhirnya sesi dengar ini, tidak ada sesi diskusi/bedah album?

“Dari ERK-nya sendiri memang tidak berusaha untuk ada diskusi atau bedah. Dari mereka justru begitu. Kemarin kami juga berpikir ‘apakah ini harus ada diskusi dengan teman-teman?’ mereka malah bilang, ‘nggak kok Ver, di semua titik kita cuma dengar, selesai, udah’. Kayak kita nonton bioskop. Karena setting awalnya kan untuk diputar di bioskop, makanya gitu, jadi ya udah. Sebenarnya juga tidak ada keharusan membedah kan? Tapi apakah kita akan ngobrol sembari menunggu antrian di toilet, bisa jadi kan? Jadi, kayaknya mereka berusaha untuk numbuhin hal-hal yang sifatnya organik aja nih! Sesuai dengan tema album juga, gitu.

Apakah sesi dengar ini bisa dibilang sebagai media promosi baru bagi para musisi atau band?

“Kalau di Indonesia kayaknya memang baru. Kayaknya baru mulai ketika ada SUBO Listening Bar, kalau gak salah, di Jakarta–punya Intan Anggita. Jadi dia memang bar konsepnya, untuk listening session, gitu. Jadi di sana ada pemutar vinyl, dan ada CD–dipajang semua. Jadi kamu datang ke sana, tapi booking, sayangnya tempatnya se-eksklusif itu. Jadi setelah booked, kita punya hak untuk dengerin rilisan fisik punya mereka. Nah, akhirnya di sana ada beberapa kali band-band kenamaan yang bikin listening session. Entah itu Hindia, d-Masiv, bahkan Perunggu kayaknya udah pernah bikin listening session di sana, by invitation gitu. Terakhir Mocca–yang vinyl My Diary juga pernah di situ. Rata-rata semuanya berbayar, kayaknya lebih dari seratus ribu deh? Karena ada persoalan musisinya datang. Jadi akhirnya yang datang itu, emang yang udah punya vinyl. Jadi mereka sekalian legalisir. Ya, sebenarnya ini emang media promosi yang baru. Apalagi di Sumbar. Jadi kayaknya tren itu berulang kan? Setelah kita semakin digital, gitu. Tiba-tiba yang seru adalah dengerin rame-rame, dan gak ada di-skip. Jadinya balik ke konvensional. Jadi, menariknya itu.”

 Jadi nanti ke depannya bakal ada lagi gak listening session di Rimbun?

“Oh, iya! Minimal nanti satu kali dalam sebulan, awak akan bikin setelah lebaran. Yang akan awak upayakan sih, mungkin dari rilisan demajors dulu. Karena kalau dari rilisan demajors awak bisa request. Bisa diposting oleh musisinya, terus band-nya bisa ngasih feedback. Kalau sekarang kan demajors sama Sychronize Radio itu punya program ‘Denger Duluan’. Jadi ‘Denger Duluan’ itu single atau album yang dirilis sama demajors, tapi diputar duluan di radio Sychronize. Kemudian program itu yang akan di-offline-kan. Teknisnya listening session, tapi namanya ‘Denger Duluan’. Kemungkinan habis lebaran, kayaknya. Rata-rata sekarang masing-masing kota kayak Pontianak, Banjarmasin sedang bikin listening session, tapi tidak pakai merek demajors. Lebih kayak–diskusi di klub buku, gitu. Dari sana kayaknya menarik buat kami coba bikin listening session versi masing-masing. Sebelum akhirnya pakai merek demajors, gitu. Biar pasarnya gak kaget kan? Ada beberapa yang udah masuk list.”

How would you describe Rimbun?

“Kami di Rimbun, bisa bermain dengan banyak hal kayak klub film, demajors, semacamnnya…apapun itu program-program yang kami bikin. Karena selalu disupport Rimbun. Rimbun memberikan kami ruang bermain yang cukup luas. Lagipula secara garis besar, Rimbun ini ternyata hidup dari teman-teman yang di sekitar Rimbun aja, gitu. Kalau kata Otong Koil, ‘masih banyak cara untuk bersenang-senang, dan masih banyak cara untuk mencari uang’. Saya dan teman-teman di Rimbun masih percaya hal itu sih.”

Noverdy Putra (atdemajors Padang) saat “Mendegar Rimpang” di Rimbun.

***

Selain Cappucino Oatly yang kadang kontra dengan isi saku, ada hal-hal lain yang saya sukai dari Rimbun. Seperti identitas media sosialnya yang naratif, ditulis dengan bahasa yang tidak “gersang”, dan enak dibaca. Di antara banalnya pergaulan, dan meruyaknya caption picisan beragam media kedai kopi dengan kalimat perayu, gaya caption yang Rimbun pilih menghibur hati saya. Cukup sulit menggambarkannya dengan kata sifat. Bagi beberapa orang, Rimbun bukan sekedar kedai kopi atau tempat pertemuan berbagai tongkrongan di Padang. Memang, Rimbun bukan satu-satunya venue yang terbuka bagi ‘kerja-kerja kreatif dan kebudayaan’ di Padang tapi Rimbun adalah melting pot, suatu ‘ruang tematik,’ salah satu scene yang punya peran tesendiri. Rimbun adalah Rimbun. (*)

Editor: Randi Reimena

Foto-foto: @demajors_pdg

Related posts
MusikReportase

Satu + Tiga Hari Patara Fest

MusikReportase

Meladju Kencang, Payakumbuh

Musik

Ketika Raze Menjajal Festival Musik Kekinian

Musik

Melarikan Diri ke Swarnaland

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *