Musik

Melarikan Diri ke Swarnaland

Sulit rasanya menahan diri untuk tidak semringah di konser Tulus. Mendengar lagunya pun, adalah suatu eskapisme dari segala kemuraman yang dihadapi seorang pejuang cinta kasih segenap hayat. Terhitung setahun sudah Tulus merilis album Manusia. Album ini berisikan sepuluh nomor, termasuk di antaranya–yang masih naik daun di ruang digital, yakni Hati-Hati Di Jalan dan Diri. Belum sempat Tulus membawakan album ini di Ranah Minang. Akhirnya,pada 18 Maret mendatang, sebuah promotor asal Kota Padang–Wajicreator, berhasil memboyong solois populer kelahiran Bukittinggi ini sebagai salah satu penampil. Ini menjadi kabar gembira di kancah festival musik nasional, khususnya Sumatera Barat. Meskipun peraturan sudah dilonggarkan per tahun lalu, festival musik masih menjadi ajang pelepas rindu bagi mereka yang mungkin sudah lama absen dari konser para idolanya. Digelarnya Swarnaland Fest, festival musik yang dihelatkan di GOR H. Agus Salim Padang, 18 hingga 19 Maret ini.

Festival musik yang katanya bikin heboh FYP Hunter ini berisikan line-up Tulus, Yura Yunita, Dikta, dan Soegi Bornean, hingga grup musik kawakan seperti d’Masiv dan Kangen Band. Tidak hanya soal musisi mainstream,pertunjukan akan semakin semarak dengan bergabungnya unit metal Raze, yang menyuarakan isu kemanusiaan di EP pertama mereka, bertajuk So Repeat This Line. Musisi independen Brian Rahmattio juga menghiasi keseruan, selaku local heroes dari Sumatera Barat. Brian adalah bakat baru yang bersemangat menceritakan kegelisahannya lewat medium musik.

Festival musik dengan banyaknya penampil, adalah perkara menanti musisi idola, dan mencari peruntungan barangkali ada musisi lain yang disukai nantinya. Juga perihal menghargai karya musisi dengan jumlah stream lebih kecil. Kamu bakal dapat asupan musik baru–jika datang lebih awal menyimak seluruh penampil unjuk gigi. Jika kamu belum pernah dengar siapa itu Raze, dan Brian Rahmattio–sudah saatnya untuk membuka sudut pandang baru. Lebih jauh dari hanya suguhan talenta musisi, Swarnaland Fest juga menghibur pengalaman berfestival dengan pementasan tari kolosal oleh Bengkel Seni Production. Bersiap juga para K-popers buat huru-hara bareng D’Sweet Young Project.

Festival ini agak ajaib, memang. Serupa acara pesta perkawinan di Minang, Jendral Live Music–orgen tunggal asal Pariaman, juga turut memeriahkan tontonan nanti. Pertunjukan musik yang umumnya dikemas di pentas tenda ekonomis, dicap sebagai hiburan kalangan menengah ke bawah, berbaur dengan festival musik yang menggelontorkan dana berjibun. Lagipula, orgen tunggal memang sesuai dengan karakter Sumatera Barat. Hadirnya Wajicreator selaku promotor dapat menjadi bukti, bahwa Sumatera barat sedang merayakan ekosistem showbiz-nya yang beragam dan potensial. Bisa dibilang model bisnis seperti ini akan bertahan lebih lama dari bisnis kafe, lantaran efek riak yang ditimbulkan dapat mendongkrak perekonomian–terutama pekerja industri musik, dan pariwisata. Pasalnya, jejaring sektor-sektor yang terlibat dituntut untuk bermitra, demi meningkatkan nilai ekonomi secara total.

Swarnaland Fest menjadi acara populer yang menawarkan peluang besar untuk menghasilkan keuntungan bagi ekonomi setempat. Sejalan dengan visi-misi gelaran ini; tak hanya menonjolkan musik lintas genre dan umur, tapi juga budaya, wisata, bahkan upaya meningkatkan ekonomi masyarakat lokal, khususnya di sekitar penyelenggaraan Swarnaland. Coba perkirakan berapa jumlah sektor pekerjaan yang dilibatkan untuk satu gelaran festival ini. Sebut saja, yang pertama adalah para penampil, berikutnya jasa impesariat yang mencakup kegiatan pengurusan dan penyelenggaraan pertunjukan hiburan, berupa mendatangkan, mengirim, maupun mengembalikan serta menentukan tempat, waktu, dan jenis hiburan. Hingga soal pasar komunitas lokal, yaitu varian tenant UMKM–yang seluruhnya berbasis di Sumatera Barat, mulai dari pelaku usaha kuliner, aksesoris, garmen, dan banyak lagi nantinya bakal menghiasi venue.

Lalu festival ini melibatkan jasa juru kamera, juru lampu, juru rias, penata musik, jasa sound system, termasuk juga pihak creative agency. Belum lagi koreografer dan penata tari serta stylist. Hadir juga pihak keamanan, dan boleh jadi ada warga merangkap juru parkir, dan pedagang kaki lima yang bertebaran di sekitar area pertunjukan. Hampir semua sektor pekerjaan yang disebutkan tadi, kira-kira 90% dipercayakan penyelenggara pada pegiat, ataupun penyedia jasa yang ada di Sumatera Barat. Percaya atau tidak, upaya yang dilakukan penggagas festival musik, dan semua pihak yang terlibat telah mempraktekkan misi utama dari economic development, pun kebangkitan UMKM yang sering digadangkan oleh pemerintah kita yang visioner. Tentunya, ini dilakukan tanpa banyak morat-marit seminar, kegiatan seremonial, dan kegiatan “berkumpul” formal lainnya.

Bisaj jadi, dengan adanya Swarnaland Fest lalu lintas manusia di Kota Padang akan bertambah secara drastis selama dua hari nanti. Pasalnya, pihak penyelenggara telah berhasil menghelat event Road To Swarnaland beberapa waktu lalu. Jadi, bagi warga Padang harap pengertiannya, jika pengunjung kota tiba-tiba membludak akibat animo publik, layaknya Pariaman yang terdengar lengang, dek Tabuik makanya ramai. Tanggal 18 adalah hari Sabtu, puluhan ribu penonton yang bakal hadir memijakkan kakinya di lapangan rumput GOR H. Agus Salim, untuk bisa menyaksikan para penampil secara bergantian di dua panggung, Main Stage dan Hura-Hura Stage. Sungguh, sebuah event yang layak dinantikan di tengah kondisi ekonomi yang tidak begitu sehat. Bagi yang sudah punya tiket di tangan, pasoklah air mata kalian. Tampaknya kita bakal mengalami mata sembab, dan suara yang sesegukan tenggelam dalam alunan, lalu dituntun untuk pulang ke rumah dengan hati senang.

Related posts
MusikReportase

Satu + Tiga Hari Patara Fest

MusikReportase

Meladju Kencang, Payakumbuh

Musik

Membincang Rimpang

Musik

Ketika Raze Menjajal Festival Musik Kekinian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *