Artikel

Social Judgement Dalam Media Sosial

Pada saat ini media sosial telah menjadi bagian dalam kehidupan manusia. Mulai dari kelahiran, kehidupan, hingga kematian. Banyak hal yang akhirnya menjadi sumber perbincangan di media sosial melalui chatting, posting maupun stories. Ketiga hal tersebut seolah-olah menjadi jiwa bagi media sosial itu sendiri. Dalam hubungan timbal baliknya, media sosial juga dapat menjadi sumber pengaruh terhadap diri manusia. Sebagian besar manusia, terutama pengguna media sosial, perilaku dan gaya hidupnya akan dipengaruhi oleh social judgement atau penilaian sosial yang didapatnya melalui media sosial. Dengan beragamnya penilaian sosial yang diterima, maka hal tersebut juga akan berdampak pada cara hidup yang beragam pula.

Muzafer Sherif dan Carl Hovland dalam teori penilaian sosial yang dicetuskannya pada 1961 menyatakan, “Dalam interaksi dengan orang lain, kita harus bergantung pada sebuah dasar atau acuan internal. Dengan kata lain, acuan kita berada di kepala kita dan didasarkan pada pengalaman sebelumnya.”[1]Dengan demikian penilaian sosial tidak sertamerta kita dapatkan dari pengamatan di media sosial, tetapi sebelumnya juga dipengaruhi hal yang disebut Sherif sebagai kerangka rujukan (reference point). Bisa disederhanakan menjadi “kemampuan berpikir” atau “persepsi”.

Kemampuan berfikir tersebut membuat seseorang menentukan cara ia menerima sesuatu yang dilihat, didengar, dan dialaminya. Hal itu juga membuat berbeda-bedanya sudut pandang dan penafsiran masing-masing orang terhadap konten atau isu yang ada di media sosial. Misalnya, saat seseorang menilai orang lain dari story yang di bagikannya di Whatsapp ataupun di Instagram, ia akan menilai buruk dan baik seseorang itu berdasarkan persepsinya.

Inilah yang disebut Sherif sebagai konsep ego-involvement. Ego-involvement mengacu pada tingkatan seberapa penting sebuah “tawaran” terhadap kehidupan seseorang.[2] Contohnya, seorang pendaki yang mencap dirinya pecinta gunung, senja dan kopi, ia akan mem-posting foto-fotonya sedang di gunung minum kopi dengan caption yang barangkali menyangkut keindahan alam, kopi, dan senja. Orang lain yang melihat posting-annya akan memiliki penilaian yang berbeda-beda. Ada yang biasa-biasa saja karena memang ia tidak peduli dengan orang tersebut. Ada juga yang menyukainya dan menyebutnya keren karena ia juga pendaki melankolis yang suka kopi dan senja. Tetapi tentu ada juga yang justru mencacinya, ketika orang tersebut beranggapan bahwa posting-an dengan caption itu memualkan perutnya dan ia menggap hal tersebut terlalu hiperbola untuk hidup yang tidak selalu manis ini.

Sesuai teori Sherif, penilaian yang berbeda-beda itu digolongkan menjadi tiga respon, yaitu pendapat yang diterima (latitude of acceptance), pendapat yang ditolak (latitude of rejection), dan pendapat yang tidak diterima dan tidak ditolak (latitude of no comment). Perbedaan itu pada dasarnya menyebabkan dua hal yaitu kontras dan asimilasi.“Contrast is a perceptual distortion that leads to polarization of ideas. Assimilation is the rubberband effect that draws an idea toward the hearer’s anchor, so that it seems that he and the speaker share the same opinion.”[3]Kontras dapat memicu terjadinya penolakan terhadap apa yang di share orang lain di media sosial sedangkan asimilasi dapat membuat seseorang menerima apa yang di share oleh orang lain.

Penerimaan mungkin tidak akan terlalu menjadi masalah di media sosial. Di sisi lain, penolakan justru berpotensi memunculkan beberapa masalah, seperti ujaran kebencian, adanya haters serta muncul dan tersebarnya hoaks di media sosial. Semua masalah yang berawal dari dunia yang kita sebut “maya” itu justru terbawa dalam realitas kehidupan kita. Banyak kita lihat orang tidak saling menyapa lagi satu sama lain sejak ia merasa tersinggung oleh caption di media sosial seseorang. Ada juga keluarga yang sudah tidak saling berjumpa lagi semenjak perbedaan pendapat di grup WhatsApp keluarganya mengenai pemilihan kepala daerah. Jadi, dalam hal seperti itu maya dan realitas hanya dibatasi kata “dan” pada sekarang ini, benar-benar dekat dan saling berpengaruh.

Kemampuan saling memengaruhi di antara keduanya selaras dengan munculnya pengguna media sosial (netizen) yang lansung menilai hidup orang lain dari apa yang diunggah oleh orang tersebut. Hal-hal yang ditampilkan oleh orang-orang di media sosial dinilainya sebagai gambaran sebenarnya dari diri seseorang. Dampaknya, beberapa orang justru jadi memaksakan dirinya menjadi seperti yang diinginkan oleh orang lain tersebut. Ia memaksakan dirinya terlihat baik bahkan lebih baik di media sosial. Sehingga dirinya yang ia tampilkan di media sosial bukan lagi menggambarkan dirinya yang sebenarnya. Selain itu, ada juga orang-orang yang justru memilih tidak mengunggah apa-apa karena ia takut yang ia unggah tidak disukai oleh orang lain, padahal maksud hati ingin mengunggah dan membagikan hal tersebut hingga akhirnya ia menggunggah sesuatu hanya menggunakan pilihan “close friend” (terdapat dalam Instagram) ataupun di WhatsApp, membagikan story-nya dengan pilihan “hanya dilihat oleh”. Dan, sebagian lainnya memilih untuk tidak menyentuh media sosial sama sekali.

 


[1] Stephen W. Littlejohn dan Karen A. Foss, Teori Komunikasi, Edisi 9, terj. Mohammad Yusuf Hamdan, (Jakarta: Salemba Humanika, 2009), hlm. 105-106.

[2] Abadi Aulia, “Social Judgment Theory (Teori Pertimbangan Sosial)”, http://abadiaulia.blogspot.com/2013/01/social-judgment-theory-teori.html?m=1,.

[3] Em Griffin, A First Look at Communication Theory, Sixth Edition, (New York: McGraw-Hill, 2006), hlm. 210.

Penulis Wiranti Gusman

Editor Luthfi Saputra

Ilustrasi oleh @teawithami

Related posts
Artikel

Dua Diskursus dalam Pengujian UU Pers

Artikel

Apa yang Bisa Kita Bicarakan Soal Pantek

Artikel

Rupa di Balik Kritik

Artikel

Tentang Penambahan Periode Jabatan Presiden

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *