Artikel

Pulang-Pulang, Folklor Hilang

Jumat sore itu kala kelas usai sekitar jam empat, saya memutuskan untuk tetap pulang kampung. Letaknya tidak jauh dari Kota Padang, mungkin hanya sekitar 35 Km. Namun, tetap saja membuat anak-anak kos seperti saya kadang enggan untuk pulang. Barangkali karena jalan yang begitu curam di Sitinjau Lauik—jalan yang menghubungkan Kabupaten Solok dengan Kota Padang. Tetapi tak sedikit juga yang memilih pulang setiap minggu, entah alasannya rindu atau sekedar uji nyali tak berdasar. Bahkan ada salah seorang teman saya, namanya Adit, yang kuliah di Politeknik Negeri Padang, dia berani pulang balik Solok-Padang setiap hari menggunakan sepeda motor. Sebenarnya saya bukan tipe yang pemulang, tetapi kala itu sedang  ada acara dua-dua  di rumah gadang kami, tentu sebisa mungkin saya usahakan untuk pulang. Dua-duasendiri adalah sebuah tradisi mendoa bersama-sama yang dipimpin oleh seorang Urang Siak (orang yang pandai mengaji) untuk menyambut bulan suci Ramadhan.

Saya menikmati perjalanan pulang menaiki bus Telaga yang berwarna oranye itu. Bus ini akan terus membawa penumpang terakhir ke Alahan Panjang. Saya duduk di bagian tengah sembari menikmati pemandangan jurang-jurang yang curam, kayu-kayu yang menjulang, tebing-tebing tinggi, jalanan yang berbelok belok dan tajam. Akhirnya tidak sampai satu jam saya tiba di simpang tiga Lubuk Selasih.  Telaga dibelokkan ke kanan. Kurang lebih 1 Km bus itu mendaki, sampailah saya di kampung halaman tercinta, Kelok Batuang. Ya, itu nama kampung saya kelok artinya tikungan, dan batung artinya bambu. Jadi, nama kelok batuang terbentuk atas banyaknya tumbuhan bambu yang tumbuh, serta di tikungan pertama masuk ke daerah itu ada serumpun bambu yang menyambut. Di tikungan pertama itu saya langsung mengatakan “kiri, Da.”

Halaman rumah gadang dipenuhi dengan etek-etek yang berdiri dan anak-anak yang berlari. Meski bukan rumah gadang bagonjong, kami tetap menamainya rumah gadang, sebab inilah rumah tempat ninik kami tinggal terdahulu.

“Icik pulang, yeee…” Semuanya langsung berlarian memeluk dan merampas buah bengkuang dalam kantong hitam yang saya jinjing. Saya sangat senang dan tersenyum kepada semua anak-anak kecil itu. Tak lupa saya bersalaman dengan etek-etek yang ada di sana. Kemudian saya langsung masuk ke dalam rumah, “Assalamualaikum.”

“Walaikumsalam, makan, Gi?”  Tawar orang di dalam rumah yang sedang makan.

“Baru pulang kuliah dari Padang, Gi?” Tanya seorang lainnya.

Saya hanya mengangguk dan tersenyum. Ketika  masuk,  rombongan bapak-bapak sedang makanbersama. Itu artinya mendoa sudah selesai. Saya merasa terlambat, karena tidak ikut menampung tangan. Saya langsung bergegas meletakkan barang di salah satu kamar, dan bergegas ke dapur, menemui Uwo dan Ibu.

“Eeeh alah pulang anak gadih,” Sorak Uwo begitu girang mendapati saya pulang. Saya bersalam dengan Ibu dan Uwo.

“Jo apo Kak pulang?” (dengan apa kakak pulang?) Tanya ibu kemudian.

“Jo Telaga, Bu.”

“Ado yang kaditolong lai Wo?” Tanyaku menawarkan bantuan kepada Uwo.

Uwo menjawab dengan bahasa Indonesia-Padang: “Tolong makan ajalah”.

Saya tergelak mendengarnya. Setelah bapak-bapak itu selesai makan kami membereskan piring kotor dan baru makan khusus kaum perempuan. Saya sangat senang bisa makan kalio ayam dengan lahapnya.

Tak terasa setelah acara du’a-du’a selesai. Kami pergi berlimau ke kuburan, yang letaknya tak jauh dari rumah gadang, berziarah menaburkan bunga mawar, dan harum-haruman untuk sanak saudara yang telah dulu berpulang. Maghrib pun tiba, kami kembali ke rumah gadang untuk sholat. Selesai menunaikan sholat saya memutuskan untuk  beristirahat dengan duduk selonjoran di atas karpet. Rumah gadang di penuhi dengan sanak saudara. Juga ada sekelompok anak-anak yang merupakan adik dan kemenakan saya sedang asyik berkejar-kejaran di dalam rumah. Saya memperhatikan mereka satu persatu.

Sungguh, saya rindu dan teringat semasa kecil. Waktu itu belum ada  lampu listrik sebagai penerang cahaya saat malam hari. Kalau sudah malam, saya tak akan mungkin bisa berkejar-kejaran dengan teman sepermainan. Saya bahkan tinggal di rumah yang berdindingkan bambu. Kami menggunakan lampu cogok untuk penarangan malam hari, sebuah lampu yang dibuat dari minyak tanah, botol kaca bekas, dan sumbu dari kain. Ketika pagi, maka siap-siap saja hidung dan pipi sudah hitam karena asap yang ditimbulkannya.

Mata saya terus mengamati gerak anak-anak yang berlarian di dalam rumah Gadang. Uwo kemudian keluar dari dalam kamar, memberikan mereka gawai untuk dimainkan. Agar anak-anak itu tidak lagi berkejaran. Tetapi sesaat kemudian, anak Uwo.  Gifran, dan cucunya, Tania yang masih sama-sama berusia 3 tahun,berkelahi merebutkan gawai itu. Saya  mendekat ke arah mereka. Tania mengadu kalau dia ingin menonton film Barbie, sedangkan Gifran ingin memainkan permainan balapan mobil.

“Bagaimana kalau kita bermain boborea dan nek-nek ladiang?”  Saya menawarkan kepada mereka.

“Permainan apa itu, Cik?” Tanya Agil, cucu Uwo yang sudah duduk di kelas 3 SD.

“Ini permainan saat Icik kecil.”

Memang dua permainan ini sangat sering saya mainkan seusai pulang mengaji saat malam hari. Terkadang juga kami memainkannya saat hari hujan.  Permainan yang hanya dilakukan dengan duduk, bertepuk tangan, dan bernyanyi. Awalnya Saya diperkenalkan dengan  permainan ini oleh Ayah, saat masih TK. Ayah saya diajari orangtuanya. Memang permainan ini  di ajarkan oleh orang tua kepada anak-anak mereka pada malam hari sebelum listrik ada,  agar anak-anak memiliki media belajar sekaligus bermain.

Anak-anak di rumah gadang tadi sudah duduk membentuk lingkaran. Satu persatu meninggalkan gadget mereka karena melihat kawan yang lain ikut duduk, ingin bermain. Ada Gifran, Tania, Agil, Rhakel, Aura, dan Marsya. Saya meminta mereka mengembangkan kesepuluh jari tangan. Saya menjadi juru hitung, saya nyanyikan boborea sambil menunjuk jari mereka. Begini nyanyiannya:

Boborea kain batik singapura

Piapi nan baroda lakang tansi nan tabaka

Kabiliak kadapua manggulai asam padeh

Itiak nan batalua ayam nan manateh

Tigo kali naiek kapa makan roti jo mantega.

Aura sangat senang karena nyanyian pertama habis di tangannya. Nyanyian diulang lagi. Setelah lama menyanyikan lagu boborea, ternyata Marsya yang masih tinggal dua jari, sehingga dia kalah.  Hukumannya adalah digelitik oleh anak-anak yang lain. Gelak tawa mereka terdengar begitu renyah di telinga.

“Main yang lain yuk, Ni. Nek-nek ladiang tadi kata, Uni?” Ajak mamak Rhakel, dia adalah adik kandung saya yang masih duduk di kelas 1 SD.

Saya pun meminta mereka semua untuk kembali membentuk lingkaran lalu mengepalkan kedua tangan, seperti membentuk telur ayam. Disusun memanjang ke atas berselang-seling tangan kiri dan kanan. “Pacah talue ciek” Ucap saya sembari mencontohkan tangan dikepal yang mulai melebar. “Pacah talue duo, tigo,” dst. Hal ini membantu mereka belajar berhitung. Setelah semua telur pecah, saya kembali menjadi juru nyanyi yang menggososk-gosok tangan.

Nek-nek ladiang salang golok gadang

Kanaa golok gadang?

Untuak paambiak ati alang

Kanaa ati alang?

Untuak paubek paja ketek

Kanaaa paja ketek?

Untuak pauni rumah gadang

Kanaa rumah gadang?

Untuak palatak pitih banyak

Kanaa pitih banyak?

Untuak pambali kudo balang

Kanaa kudo balang

Untuak bapacu ka subarang

Mangaa urang di sinan?

Baralek gadang

Aa samba urang di sinan?

Cirik kambiang, cirik jawi, cirik munsang, randang, dendeng, gulai tapak leman, randang (sesuka hati si juru hitung).

Saya mengangkat tangan seolah-olah tangan ini sebilah parang sambil menyebutkan sambal apa yang ada. “Ciriiik kambiaang” (Tahi kambing) Ujar saya dengan cepat mengenai tangan Mamak dan Agil. Mereka terbahak-bahak melihat Mamak dan Agil terkena cirik (taik). Seolah-olah mereka dituntut harus memiliki intuisi supaya bisa mengelak saat kata cirik datang. Namun jika yang datang nama makanan, mereka akan senang.

Saya teringat dengan ucapan Ibu Dosen sore tadi. Beliau mengatakan “menurut Danandjaya,  Folklor adalah kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan secara turun temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda-beda. Folklor bisa bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat. Cakupan dari folklor sangat luas mulai dari cerita rakyat, nyanyian tradisional, permainan tradisional, ungkapan larangan, sampai ke arsitektur rumah, dan masih banyak lagi.”

Boborea dan nek-nek ladiang adalah permainan folklor yang muncul karena dipengaruhi pola hidup masyarakat Kelok Batuang tanpa energi listrik tempo dulu, ketika teknologi belum belum hadir.

Memang permainan-permainan ini tergolong sederhana dan tidak membutuhkan banyak tenaga seperti permainan berkejar-kejaran. Akan tetapi kandungan maknanya sangat luas, bisa membantu anak-anak mengolah pikiran dan intuisi. Lewat permainan sederhana ini, anak-anak juga dikenalkan dengan kias yang dikandung dalam setiap lirik lagu.

Sangat disayangkan sekali permainan-permaian seperti ini tidak banyak lagi dimainkan anak-anak. Penggunaan bahasa daerah dalam lagu, keakraban yang tercipta, intuisi yang dipacu oleh permainan ini, tidak dapat lagi dinikmati anak-anak.

“Aa samba urang di sinan? Ciriik jawi.”

Saya tersentak, ternyata Marsya sudah memulai ulang permainan. (*)

Ilustrasi oleh Amalia Putri.

 

 

 

 

About author

Mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas.
Related posts
Artikel

Roehanna Koeddoes dan Proyek Kolonialisme Tercerahkan

Artikel

Siska, Rantau, dan Perlawatan Melampaui Diri

Artikel

Buya H. Mansur Dt. Nagari Basa: Ulama dan Pendidik yang Haus Ilmu

Artikel

Situs, Status dan Makna: Manufacturing Memory Monumen TBOS 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *