Artikel

Buya H. Mansur Dt. Nagari Basa: Ulama dan Pendidik yang Haus Ilmu

Setelah pada tulisan sebelumnya kita membahas sosok ulama dari kalangan Kaum Tua yang cukup tersohor yaitu Inyiak Canduang, kali ini kita akan membahas Buya H. Mansur Dt. Nagari Basa.

Beliau ialah ulama, akademisi, organisator, dan mursyid Tarekat Naqsyabandiyah. Beliaulah yang mengimami sholat jenazah dari Syekh Sulaiman Ar-Rasuli “Inyiak Canduang.” Sosoknya patut dikenang, diambil pelajaran dari kisah hidupnya, dan dikaji pemikirannya.

Dikenal sebagai pewaris keilmuan dari ulama-ulama Kaum Tua di Minangkabau, Buya H. Mansyur dilahirkan di Kamang Mudiak, Kab. Agam, pada 15 Juni 1908. Dahulunya beliau menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat, kemudian belajar ilmu agama secara mendalam dengan Syekh Abdul Ghani di Magek, Kab. Agam yang terbilang ahli fiqih kala itu dan juga dikenal sebagai murid dari Syekh Yahya Al-Khalidi.

Selepas berguru di Magek, beliau melanjutkan pengembaraan keilmuannya kepada Syekh Muhammad Jamil Jaho. Di sini ia tercatat menerima ijazah pendidikan formal Madrasah Tarbiyah Islamiyah pada 1928.

Namun ilmu bagi Buya Mansyur tak berhenti di Izajah saja, ia tetap ‘haus’ ilmu. Sikap inilah yang kelak membuat karirnya mentereng.

Syekh Muhammad Arifin Batuhampar juga tercatat sebagai guru dari Buya Mansur dalam hal Tarekat Naqsyabandiyah. Dari jalur ini jugalah beliau mengembangkan silsilah sanad keilmuan  Tarekat Naqsyabandiyah pada khalayak banyak, hingga dikenang hari ini.

Ia pun menimba ilmu sampai ke tanah Arab sendiri. Di sana Buya Mansur juga pernah belajar langsung kepada Syekh Ali Al-Maliki, Syekh Sain Amin dan Syekh Hasan Yamani.

Selain gemar belajar, ia juga produktif dalam menulis. Banyak sudah karya tulisnya dengan beragam tema: Bidayatul Ushul, Ilmu Mantiq, Hidayatut Thalibin, Misbah az-Zalam,  Islamologi, Menggali Hukum Tanah dan Hukum Adat, Keluarga Berencana dalam Islam dan lain-lain.

Walau sudah berguru ke mana-mana, dan sudah menulis banyak buku, ia tetap rendah hati, dan menganggap dirinya fakir ilmu. Kepada murid-muridnya, ia selalu menekankan pentingnya terus belajar. Seperti tampak dalam salah satu pesannya:

“Belajarlah terus tanpa henti, karena ilmu itu bagaikan samudra yang dalam dan luas. Jangan merasa sudah pintar, karena di atas orang yang pintar, ada orang yang lebih pintar. Dan jangan pula merasa tidak ada lagi guru yang lebih pintar tempatnya belajar, karena setan akan menjadi guru (menyesatkan) orang yang merasa tidak ada lagi guru yang lebih pintar darinya”.

***

Di masanya, Buya Mansur seangkatan dan sama-sama berjuang dengan banyak ulama. Sebut saja Syekh Zakaria Labai Sati Malalo, Syekh Mukhtar Ongku Lokuang, Buya Sirajuddin Abbas, Buya Sulthani Dt. Rajo Dubalang, Buya Rusli Abdul Wahid, Syekh Kanis Ongku Tuah, dan Syekh Dhamrah Arsyadi Batuhampar. Sosok beliau bisa dibilang tidak kalah hebat dari Buya Hamka.

Kiprahnya di dunia pendidikan dan organisasi merentang panjang. Buya Haji Mansur Dt. Nagari Basa tercatat sebagai pendiri MTI YATI Kamang, dan pendiri Fakultas Syari’ah Bukittinggi. Ia pun pernah menduduki posisi sebagai Pimpinan Lasykar Masyumi (Lasymi) pada masanya.

Pada 1958, Buya Mansur ditetapkan sebagai Ketua Mahkamah Syar’iyah Sumatra Tengah menggantikan Syekh Sulaiman Ar-Rasuli.  Kala itu Mahkamah Syar’iyah yang di pimpin oleh Buya Mansur didirikan berdasarkan PP no. 45 Tahun 1957 dan Kepmenag No. 58 Tahun 1957.

Setelah jabatannya di Mahkamah Syar’iah berakhir, Buya Mansur diangkat sebagai Kepala Pengawas Peradilan Agama oleh Departemen Agama pada 1963-1969. Pada 1967-1973, ia menjabat sebagai Dekan Fakultas Syariah IAIN Imam Bonjol di Bukittinggi. Tak sampai di situ, pada 1971, beliau juga diangkat menjadi Ketua Presidium UIN Imam Bonjol Padang yang saat itu masih berstatus IAIN Imam Bonjol Padang.

***

Jikalau kita berbicara perihal figur ulama dan pendidik yang berkarir pada perguruan tinggi di masa dahulunya, maka kita patut memasukkan nama beliau pada deretan daftar tersebut. Ia juga sosok yang sederhana.

Apria Putra menyebut, meski sudah tua, beliau masih mengajar di kampus. Dengan bersorban, beliau mengendarai sepeda motor ke Bukittinggi. Sedang tempat favoritnya ialah Surau Suluk di depan madrasahnya. Di sana beliau menghabiskan masa tua, dengan berzikir dan bermuraqabah. Tak lupa beliau masih mendaras kitab kuning hingga menjelang wafatnya pada 1997.

Di tengah-tengah masyarakat, beliau juga sangat dihormati. Kharismanya luar biasa besar.

Alizar Jas saksi hidup dari Buya Mansur, saat beliau berjalan, tidak ada yang berani mendahului. Bahkan orang yang bersepeda sekalipun, bila bertemu dengan beliau, pasti turun dari sepeda dan mengiringinya sambil berjalan. Kemudian Alizar Jas menambahkan, bahwa kalau ada orang yang ingin bersalaman dengan Buya Mansur, tidak ada yang berani berdiri di hadapan beliau, paling berani hanya berdiri di samping sambil menyapa dan menjabat tangan Buya seraya menunduk.

Suwarni, saksi hidup lainnya, juga turut menceritakan bahwa nama Buya Mansur soal kharismanya, mendengar nama beliau saja orang sudah segan. Diceritakan Suwarni, pernah suatu ketika, ada perkelahian besar yang tidak dapat dihentikan terjadi dalam masyarakat. Lalu di saat perkelahian itu tengah berkecamuk ada seorang yang berkata, “biar saya laporkan kepada Buya”. Seketika perkelahian itu langsung berhenti dan orang-orang segera bubar.

Mendengar ungkapan dari saksi hidud di atas, membuat kita sadar bahwa kita hari ini kehilangan sosok ulama panutan yang kharismatik di tengah-tengah masyarakat.

Sayangnya, tidak ada yang menulis secara lengkap biografi intelektual dan pemikiran-pemikiran Buya H. Mansur. Saya melihat, ulama-ulama surau, jarang mau menulis riwayat hidupnya sendiri. Jika ada tulisan tentang mereka, biasanya ditulis oleh para murid dalam bentuk ringkas, ikhtisar saja. Sementara, menimbang keilmuan, kariernya, dan pengaruhnya,  sudah sepantasnya lahir karya tentangnya. Seperti dikatakan  Apria Putra, Buya H. Mansur ialah salah satu tokoh ulama besar PERTI yang boleh dikata teramat jarang kalangan intelektual dari PERTI yang membahas biografi intelektual dari beliau, baik itu pada disertasi maupun tesis.

Maka hendaknya sangat pantas kita berharap di  kemudian hari kita menemukan karya ilmiah perihal beliau yang disebarkan dan menjadi bacaan populer di kalangan generasi muda terutama generasi muda PERTI.

Kenapa demikian? Karena kiprah dan pemikirannya patut untuk menghantarkannya mendapatkan apresiasi dalam lingkup ilmiah yang lebih luas. Sosok beliau bisa menjadi inspirasi soal ilmu, keteguhan, kiprah sosial keagamaan dan kesalehan, di tengah generasi yang kehilangan figur-sosok panutan hari ini. (*)

Sumber foto: PPTI Buya Mansur.

 

About author

Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sjech M.Djamil Djambek Bukittinggi. Menaruh perhatian terhadap sejarah ketokohan ulama-ulama Tarekat di Sumatra Barat serta dinamika dan problematika surau tradisional Minangkabau. Di samping itu juga aktif menulis di beberapa website soal degradasi peran surau di tengah masyarakat.
Related posts
Artikel

Roehanna Koeddoes dan Proyek Kolonialisme Tercerahkan

Artikel

Siska, Rantau, dan Perlawatan Melampaui Diri

Artikel

Pulang-Pulang, Folklor Hilang

Artikel

Situs, Status dan Makna: Manufacturing Memory Monumen TBOS 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *